Rawan Banjir, Semarang Pasang AI Flood Eye untuk Prediksi 2-3 Jam Lebih Awal
Kota Semarang akan memasang sistem pendeteksi banjir berbasis kecerdasan buatan (AI). Rencananya, sistem ini bakal diaktifkan Oktober mendatang di enam titik sebagai tahap awal.
Sistem bernama Flood Eye ini dikembangkan oleh KONEKSI, bermitra dengan University of Wollongong Australia, Telkom University, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang.
Peneliti Flood Eye dari KONEKSI Miftadi Sudjai mengatakan, sistem ini dapat menjadi alat bagi BPBD untuk memprediksi kapan banjir terjadi, berapa besar potensinya, dan berapa banyak orang yang bisa terdampak.
“Sehingga itu akan membantu mitigasi korban banjir, mengevakuasi penduduk yang terkena dampak banjir, juga untuk keperluan lain misalnya pengaturan logistik, rerouting lalu lintas, atau memperlancar distribusi barang,” kata Miftadi, saat ditemui usai diskusi di Road to Katadata SAFE: Semarang Resilience Forum 2026, Semarang, Senin (31/8).
Di tahap awal, sistem deteksi ini akan dipasang di enam titik di sepanjang aliran Kali Babon, dari Sikatak hingga Penggaron. Kali atau sungai ini seringkali meluap karena tak mampu menahan debit air dari kawasan hulu, terutama saat curah hujan tinggi.
Flood Eye memiliki sejumlah parameter untuk mendeteksi banjir, berupa ketinggian air sungai, kecepatan air mengalir, berapa kubik air mengalir di sungai, kontur dan topografi wilayah, serta curah hujan.
Sistem ini dirancang agar dapat memberikan hasil prediksi banjir kurang lebih 2-3 jam sebelum bencananya datang. Dengan demikian, pemerintah dan masyarakat di area potensial dapat bersiap lebih awal.
Dengan berbasis data tersebut, BPBD akan menyebarkan pesan peringatan potensi banjir kepada masyarakat melalui WhatsApp.
“Orang punya kesempatan lebih awal untuk evakuasi, barang-barang berharga, anak-anak,” ujar dia.
Miftadi mengatakan, Flood Eye bisa diterapkan di daerah lain, namun implementasinya harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan topografi wilayah.
Melengkapi Sistem yang Sudah Ada
Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Semarang Didik Dwi Hartono mengatakan, Flood Eye akan melengkapi sistem antisipasi dan penanganan banjir yang telah diterapkan Kota Semarang.
“Kami sudah punya Pantau Banjir, ada pantau deteksi muka air, ada Lapor Semar, ada Call Center 112 untuk mendengar laporan warga. Saya kira kalau ditambah teknologi lain, bisa saling melengkapi,” ujar Didik, dalam diskusi yang sama.
Namun, menurut dia, yang terpenting bukan berapa banyak aplikasi atau teknologi yang dimiliki sebuah kota, melainkan bagaimana informasinya dapat dipahami oleh penggunanya.
“Informasinya bisa dipahami, bisa segera diverifikasi dan ada keputusan dan terjemahan dalam tindakan di lapangan,” ujarnya.
Sejalan dengan hal itu, Plt. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang Sugeng Hartono mengatakan, pemerintah terbuka dengan kajian-kajian yang dilakukan masyarakat, organisasi perangkat daerah, akademisi, atau lembaga swadaya masyarakat untuk menguatkan rencana pembangunan.
BPBD juga memiliki indikator pemanfaatan riset dalam pembangunan yang harus dipenuhi.
“Saya juga yakin, teman-teman peneliti dan kampus pasti akan lebih senang kalau penelitiannya digunakan dan berdampak,” ujar dia.
