Bahaya Api Membara di Kawasan Gambut, Teknologi Pemantauan Air Disebar
Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN mengembangkan sistem pemantauan tinggi muka air tanah atau Ground Water Level (GWL) pada lahan gambut di berbagai wilayah. Sistem ini berfungsi untuk melihat kondisi air di kawasan gambut sekaligus mengidentifikasi berbagai perubahan yang meningkatkan risiko kebakaran.
Bila merujuk pada data Pantau Gambut, Indonesia memiliki kawasan gambut tropis terbesar di dunia dengan luas mencapai 13,43 juta hektare, utamanya tersebar di tiga pulau besar yaitu Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Kebakaran masif yang terjadi saat ini banyak melanda kawasan gambut yang susah padam.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Albertus Sulaiman menjelaskan, secara alami, gambut memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar. Ketika gambut mengalami pengeringan, risiko kebakaran meningkat.
“GWL dapat digunakan sebagai early warning system untuk mengetahui kapan lahan mulai berpotensi terbakar,” ujarnya dalam kegiatan Coffee Morning Peat Wildfires, pekan lalu.
Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gambut mengering adalah pembangunan kanal. Misalnya, untuk mengatur tinggi muka air dalam aktivitas perkebunan. Bila muka air tanah turun terlalu rendah, gambut menjadi lebih kering dan lebih rentan terbakar.
Berkurangnya curah hujan menjadi faktor lain yang membuat gambut rentan mengering. Sebab, air hujan menjadi salah satu sumber utama yang menjaga kelembapan gambut.
Kebakaran pada lahan gambut sulit dipadamkan karena tidak hanya menyebabkan kobaran api di permukaan. Kebakaran dapat menjalar di bawah permukaan atau di dalam lapisan gambut melalui proses pembakaran perlahan yang dikenal sebagai smoldering.
Albertus menjelaskan, smoldering memiliki laju pembakaran yang lambat, tetapi dapat berlangsung dalam waktu yang panjang. Maka itu, pentingnya deteksi cepat untuk mencegah kebakaran meluas.
Pemanfaatan teknologi pemantauan tinggi muka air, penginderaan jauh dan data satelit dapat membantu mengidentifikasi perubahan kondisi lahan serta memantau indikasi kebakaran. Apalagi, pembakaran di bawah permukaan sulit diamati secara langsung.
Albertus menekankan bahwa gambut berperan penting karena mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar, menjaga keseimbangan tata air, serta berkontribusi terhadap pembentukan hujan lokal melalui proses alami di dalam ekosistemnya.
“Karena itu, menjaga gambut tetap basah dan sehat tidak hanya penting untuk mencegah kebakaran, tetapi juga untuk mempertahankan fungsi ekologisnya," kata dia. Dia mendorong pengkajian multi-disiplin oleh berbagai pusat riset di BRIN untuk menjaga ekosistem gambut.
