Semarang Bidik Penurunan Emisi Skala Besar hingga 2029, Apa Rencananya?
Semarang menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) skala besar, dengan memancang target kumulatif 2,49 juta ton CO2e dalam lima tahun dari 2025-2029. Ini artinya, penurunan sekitar 500 ribu ton CO2e per tahun.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang Glory Nasarani mengatakan target penurunan emisi tersebut telah dibagi ke sejumlah sektor, yakni energi, limbah, industri, serta pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya atau AFOLU.
“Selain target di sektor energi yang paling tinggi, ada juga di sektor limbah, di mana salah satunya adalah dari penurunan emisi gas metana,” kata Glory dalam diskusi Road to Katadata SAFE: Semarang Resilience Forum 2026 di Semarang, Senin (31/8).
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang 2025-2029, penurunan emisi sektor energi akan ditempuh antara lain lewat peremajaan armada BRT rendah karbon, elektrifikasi angkutan umum, peralihan bahan bakar dari solar ke CNG (compressed natural gas) dan listrik, serta mendorong warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
“Sudah beberapa kami alihkan menggunakan CNG, tahun ini dan 2025 kemarin sudah sebagian kami alihkan menggunakan listrik,” ujar Glory. Transisi energi juga mulai diterapkan pada kendaraan dinas Pemerintah Kota Semarang.
Selain itu, sejumlah gedung milik pemerintah kota telah dilengkapi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Target Penurunan Skala Besar
Dalam RPJMD Kota Semarang 2025-2029, total emisi GRK Semarang pada 2023 mencapai 6.371,43 gigagram CO2e atau sekitar 6,37 juta ton CO2e. Sektor energi menyumbang 62 persen, sedangkan limbah 36 persen.
Pada 2024, capaian penurunan emisi tercatat sebesar 381,1 ribu ton CO2e. Angka tersebut menunjukkan besaran emisi yang berhasil ditekan melalui berbagai aksi mitigasi pada tahun tersebut.
Dengan target penurunan emisi kumulatif sebesar 2,49 juta ton CO2e pada 2025-2029 atau sekitar 500 CO2e per tahun, artinya Pemerintah Kota Semarang membidik pengurangan emisi dalam skala lebih besar dalam lima tahun mendatang.
Dalam RPJMD tersebut, sektor energi dan pengelolaan limbah menjadi penyumbang emisi GRK terbesar dibandingkan sektor lainnya. Karena itu, Pemerintah Kota Semarang memprioritaskan penurunan emisi pada kedua sektor tersebut.
Mengurangi Emisi dari Sektor Limbah: PSEL hingga AI
Pada sektor limbah, upaya mengurangi emisi metana tidak hanya mengandalkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang akan digarap Pemerintah Kota Semarang bersama BPI Danantara.
Glory mengatakan pemerintah kota juga menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi emisi dari pengelolaan sampah, antara lain dengan teknologi Artificial Intelligence Solusi Sampah (AISSA).
AISSA merupakan teknologi yang memantau kondisi tempat penampungan sementara (TPS) secara real time untuk mempercepat pengangkutan sampah.
Sistem tersebut terintegrasi dengan jaringan CCTV yang beroperasi selama 24 jam di Kota Semarang. Ketika terjadi penumpukan sampah di TPS, AISSA mengirimkan notifikasi kepada petugas di lapangan serta pemerintah daerah, mulai dari tingkat kecamatan hingga pemerintah kota, agar sampah segera diangkut ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Menurut Glory, data dari AISSA juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi TPS yang kerap mengalami kelebihan muatan atau overload. Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa sampah yang masuk belum terpilah dengan baik.
“Dalam konteks dekarbonisasi, hasil pemantauan AISSA ini, titik mana yang sering mengalami overload, itu kan berarti kemungkinan besar karena sampahnya tidak terpilah,” ujarnya.
“Kalau semua sampah masuk ke TPA, dekarbonisasi kan tidak jalan. Sampah yang masuk tanpa terpilah pasti akan banyak organiknya,” kata Glory menambahkan.
Karena itu, AISSA akan dimanfaatkan untuk mengevaluasi titik-titik yang kerap mengalami penumpukan sampah. Data tersebut diharapkan membantu pemerintah mengoptimalkan pengelolaan sampah sekaligus mengurangi penumpukan sampah yang berpotensi menghasilkan emisi gas metana.
