Nihil di Riau dan Jambi, Ribuan Titik Panas Masih Bertaburan di Kalimantan
Kementerian Kehutanan mengungkap tidak ada titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi yang terdeteksi di Riau dan Jambi pada Selasa (1/9) malam. Namun, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan.
Data tersebut berasal dari pantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 yang ditampilkan dalam situs SiPongi Kementerian Kehutanan. “Tidak terdeteksinya hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Riau dan Jambi menjadi perkembangan positif yang terus dijaga,” demikian dikutip dari keterangan resmi Kementerian Kehutanan, Rabu (2/9).
Hotspot merupakan lokasi yang terdeteksi memiliki suhu permukaan lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Namun, hotspot tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran. Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga setiap indikasi perlu diverifikasi di lapangan.
Secara nasional, terdeteksi 1.370 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada Selasa (1/9) malam, meningkat dibandingkan data harian pada 31 Agustus 2026. Hotspot terbanyak di Kalimantan Barat yaitu 570 titik, disusul Kalimantan Tengah 488 titik, dan Kalimantan Selatan 64 titik. Hotspot juga masih terdeteksi di Sumatra Selatan yaitu sebanyak 19 titik.
“Konsentrasi hotspot di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah membuat penguatan kewaspadaan dan operasi pengendalian terus difokuskan pada wilayah Kalimantan,” demikian tertulis.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi udara kabur yang mengganggu jarak pandang masih terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan. Kualitas udara terpantau berada dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Pemerintah Kerahkan 53 Armada Udara
Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa tim gabungan masih melakukan patroli dan pengendalian karhutla melalui jalur darat maupun udara. Upaya tersebut mencakup pemadaman, penyekatan penjalaran api, pendinginan lahan, serta pencegahan kebakaran di lokasi rawan dan area yang berpotensi kembali terbakar.
Untuk operasi udara, pemerintah mengerahkan 53 unit armada ke enam provinsi yang menjadi wilayah utama pengendalian karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Armada digunakan antara lain untuk patroli udara, operasi modifikasi cuaca, dan water bombing.
Kementerian Kehutanan kembali mengimbau masyarakat dan seluruh pihak untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, kondisi cuaca, dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas jika kondisi lingkungan memburuk.
