29 Ribu Lowongan Green Job Tak Mudah Terisi, Apa Saja Posisinya?
Jumlah lowongan pekerjaan hijau atau green job di Indonesia belum sebanyak pekerjaan non-hijau. Namun, kebutuhan tenaga kerja yang "sedikit" ini saja ternyata tidak mudah terisi.
Green job merupakan pekerjaan yang berkontribusi pada pelestarian dan pemulihan lingkungan hidup, serta mendukung pembangunan berkelanjutan.
Berdasarkan data jejaring sosial khusus untuk keperluan profesional dan karir LinkedIn, terdapat 29,2 ribu lowongan pekerjaan di Indonesia yang dikategorikan sebagai green job sepanjang Agustus 2025 hingga Juni 2026.
Angka tersebut sekitar 6,9 persen dari total lowongan kerja di LinkedIn pada periode tersebut. Meski tergolong sedikit, porsi tersebut meningkat 5 persen dari periode sebelumnya.
“Demand-nya tinggi, tapi talenta yang relevan tidak ada,” kata Head of Government and Public Sector LinkedIn Indonesia Lanny Wijaya saat ditemui usai Diskusi Pekerjaan Hijau di Kantor Bappenas, Rabu (2/9).
Lanny tak menepis bahwa sudah ada tenaga kerja untuk sektor hijau, namun belum relevan dengan kebutuhan perusahaan. “Harus meningkatkan keterampilan lagi, keterampilan yang harus dipelajari,” ujar dia.
Lowongan Green Job Terbanyak
Menurut Lanny, posisi yang paling banyak dibutuhkan dalam lowongan green job melalui LinkedIn, yaitu tenaga kerja operasional dan peneliti. Dari puluhan ribu lowongan green job di Indonesia, 18,7 persen di antaranya mencari tenaga kerja operasional. Sedangkan 14,2 persen mencari calon peneliti.
Untuk posisi peneliti, yang banyak dibutuhkan adalah yang memiliki latar belakang di bidang ilmu lingkungan, konservasi, kualitas air, dan ekologi.
Selain itu, banyak juga lowongan di bidang komunitas dan pelayanan sosial, quality assurances, serta manajemen proyek dan program juga banyak dibidik perusahaan.
Pada posisi manajemen proyek dan program, kemampuan terkait efisiensi operasional, pengelolaan sepanjang siklus produk, keberlanjutan, dan energi terbarukan paling banyak dibutuhkan.
Menurut Lanny, perusahaan tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi terhadap pelamar. “Coba-lah yang penting 70 persen (kriteria) itu ada, 30 persennya bisa di upskill,” ujar dia.
Industri Buka Pelatihan Teknis untuk Penuhi Kebutuhan
Sulitnya mencari tenaga kerja yang relevan, membuat perusahaan teknologi energi terbarukan PT Xurya Daya Indonesia membuka ruang peningkatan keterampilan tenaga kerja. Hal ini dilakukan Xurya melalui Solar Academy Indonesia.
Head of Human Resources and General Affairs Xurya, Rosita Rojaya, tak menampik bahwa perusahaannya berekspektasi bahwa tenaga kerja yang direkrut memiliki pengalaman di industri pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Namun, Xurya cukup kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan kriteria tersebut, khususnya untuk bagian teknis. “Berangkat dari tantangan kami dalam merekrut tenaga ahli lokal, khususnya yang memiliki pengalaman di industri surya,” ujar Rosita.
Sejauh ini, ruang belajar itu baru tersedia untuk pengembangan kompetensi praktisi dan mitra dalam ekosistem Xurya. Namun, ke depan, program ini berpeluang dibuka untuk publik. “Sehingga lebih banyak orang yang akan tertarik dengan industri surya,” kata Rosita.
Selain kemampuan teknis, menurut dia, industri mencermati keterampilan tenaga kerja untuk berkomunikasi, penyelesaian masalah, kolaborasi, dan lainnya, sebelum merekrut tenaga kerja.
“Pengalaman teknis langsung di industri itu masih terbatas, sehingga kami juga fokus pada human skill-nya,” ucap dia.
