Erupsi Anak Krakatau, BRIN Wanti-wanti Jangan Konsumsi Ikan yang Mati Mendadak
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mewanti-wanti agar warga tidak mengonsumsi biota laut yang mati mendadak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
Peneliti di Pusat Riset Oseanografi BRIN Muhammad Reza Cordova mengatakan bahwa lava, abu, batu apung, dan material letusan lainnya memengaruhi kualitas perairan di sekitarnya.
Selain membuat air laut mengeruh, material tersebut dapat mengakibatkan peningkatan suhu lokal, perubahan pH, peningkatan partikel dalam air, juga masuknya logam atau mineral tertentu.
“Kalau konsentrasinya tinggi, ini bisa memicu kematian biota, terutama plankton, telur dan larva ikan, bentos, karang, dan organisme yang tidak bisa menghindar,” kata Reza kepada Katadata, pada Senin (7/9).
Pengaruhnya bisa sampai ke pesisir pulau-pulau di sekitarnya, tergantung pada arah arus, arah tiupan angin, volume material, dan kekuatan letusannya. “Jika ditemukan, jangan konsumsi ikan atau biota laut yang mati mendadak sebelum ada kepastian penyebabnya,” ujar dia.
Reza mengingatkan agar warga mengikuti arahan Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta otoritas setempat untuk tidak mendekati zona bahaya.
“Nelayan juga perlu waspada, karena abu dan material halus bisa mengganggu mesin kapal, jaring, dan kualitas hasil tangkapan,” ucap dia menambahkan.
Reza tak menampik bahwa material letusan seperti abu vulkanik juga bisa menjadi ‘vitamin’ bagi ekosistem perairan. Abu vulkanik mengandung mineral seperti besi, silika, fosfor, dan unsur lainnya yang dalam jumlah tertentu dapat menjadi nutrien bagi fitoplankton.
“Tapi, kalau masuk terlalu banyak dan cepat, efek awalnya justru bisa merusak. Misalnya air keruh, oksigen turun, biota stres, bahkan mati,” kata dia.
Potensi Letusan Masih Tinggi
Badan Geologi memperingatkan, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih di Level III (Siaga) dan kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa waktu ke depan masih tinggi.
“Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,” demikian tertulis dalam laporan perkembangan, Senin (7/9).
Gunung tersebut tercatat mengalami episode erupsi selama 25 jam sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Setelah itu, tercatat tiga kali erupsi Strombolian.
Kembalinya erupsi Strombolian untuk sementara ini diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang. Meskipun begitu, perkembangan dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi.
Badan Geologi kemudian merekomendasikan agar warga tidak memasuki dan berkegiatan dalam wilayah radius 3 kilometer dari pusat erupsi. Selain itu, swarga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker selama beraktivitas di luar.
Seluruh pihak juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, lontaran baju pijar, serta hujan abu lebat.
Masyarakat diminta tidak cepat mempercayai isu tsunami akibat erupsi Anak Krakatau. Untuk mengetahui perkembangan situasi, warga dapat menghubungi PVMBG Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan Gunung Krakatau (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten).
Perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunung Anak Krakatau juga dapat dipantau melalui aplikasi/website Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (www.vsi.esdm.go.id), Magma Indonesia (https://magma.esdm.go.id), dan media sosial Badan Geologi (Facebook, X, dan Instagram), serta website Badan Geologi (www.geologi.esdm.go.id).
