Mengenal Istilah Dead Stock, Definisi, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Image title
2 Agustus 2022, 12:02
pelaku usaha, bisnis, dead stock
ANTARA FOTO/Fauzan/foc.
Ilustrasi, pekerja menyiapkan barang untuk dikirim kepada konsumen di warehouse atau gudang milik Sociolla.

Menjalankan suatu usaha atau bisnis jelas bukan perkara mudah, karena banyak permasalahan yang harus dihadapi. Salah satu masalah yang kerap dihadapi pelaku usaha adalah terjadinya dead stock.

Dead stock adalah istilah yang merujuk keadaan barang persediaan atau inventory di gudang, yang tidak bisa lagi dijual karena alasan barang tersebut rusak, cacat, atau usang. Masalah inventory ini tentunya menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha.

Advertisement

Oleh karena itu, penting bagi pelaku usaha untuk mengendalikan persediaan yang ada di gudang. Berikut ini akan dibahas secara perinci mengenai apa sebenarnya dead stock, serta apa saja dampak yang ditimbulkan, dan bagaimana cara menghindarinya.

Definisi Dead Stock

Dead stock adalah kondisi saat persediaan barang yang terlalu lama disimpan di dalam gudang tidak laku lagi dijual di pasar. Istilah ini mencakup barang dalam kondisi rusak atau kedaluwarsa, barang sisa dari produk musiman, serta barang yang salah pengiriman.

Mengutip majoo.id, seringkali dead stock terjadi karena pelaku usaha luput dalam melakukan analisis pergerakan barang. Seperti diketahui, dalam pergerakan inventory dikenal fast moving, yakni jenis barang yang cepat keluar dari gudang dan laku terjual.

Kemudian, ada pula slow moving, yang merupakan barang yang kurang laku atau terlambat keluar dari gudang. Nah, slow moving inilah yang kerap menyebabkan dead stock.

Oleh karena itu, penting bagi pemilik bisnis untuk mengetahui cara menganalisis barang fast moving dan slow moving, agar risiko terjadinya dead stock dapat diminimalisir.

Dampak Dead Stock

Dead stock memiliki sejumlah dampak negatif pada bisnis. Beberapa dampak yang ditimbulkan dari adanya dead stock, adalah sebagai berikut.

1. Kehilangan Potensi Pendapatan

Dampak terbesar dead stock adalah bisnis akan kehilangan potensi pendapatan. Ini terjadi, karena pengadaan barang sejatinya adalah investasi yang dilakukan oleh pelaku usaha. Investasi tersebut hanya akan mendatangkan keuntungan ketika barang berhasil dijual. Apabila terjadi dead stock, maka peluang keuntungan dari investasi tersebut akan hilang.

2. Peningkatan Biaya Holding

Biaya holding atau dikenal juga dengan istilah inventory carrying cost, dapat diartikan sebagai biaya yang dikeluarkan untuk menyimpan produk. Umumnya, carrying cost ini mencakup ruang penyimpanan (gudang), tenaga kerja, dan asuransi. Semakin banyak barang yang mengalami dead stock, maka biaya holding yang ditanggung suatu bisnis akan meningkat.

3. Perusahaan Kehilangan Opportunity

Semakin banyak waktu yang dihabiskan oleh pelaku usaha untuk mengatasi masalah dead stock, maka perusahaan akan kehilangan kesempatan atau opportunity dalam hal lainnya. Sebab, tenaga kerja dan waktu yang ada akan habis tersita untuk mengatasi masalah inventory ini, ketimbang fokus pada kesempatan yang berpotensi mendatangkan keuntungan.

4. Mempersempit Ruang Inventory

Terjadinya dead stock, akan mengambil ruang rak di gudang yang seharusnya dapat digunakan untuk produk yang lebih cepat terjual. Ini akan berdampak pada permasalahan penumpukan barang yang akan memusingkan pelaku usaha, dan berpotensi menghambat laju bisnis.

Penyebab dan Cara Menghindari Dead Stock

Seperti telah disebutkan sebelumnya, dead stock adalah kondisi di mana terjadi penumpukan barang yang tidak dapat atau sulit dijual di gudang. Kondisi ini tentunya tidak muncul begitu saja.

Setidaknya ada delapan penyebab dead stock terjadi dalam sebuah bisnis. Pertama, pelaku usaha melakukan perhitungan inventory tidak akurat. Cara menghindarinya, bisa dengan menerapkan beberapa strategi peningkatan akurasi perencanaan.

Peningkatan akurasi perencanaan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan menganalisis history pesanan, memadukan data kondisi ekonomi, dan melacak aktivitas kompetitor.

Kedua, pelaku usaha menjalankan praktik pembelian yang tidak konsisten. Adanya permintaan yang rendah atau pemesanan barang terlalu banyak dapat menyebabkan perusahaan terjebak dengan kelebihan persediaan, sehingga menyebabkan dead stock.

Cara menghindarinya, adalah dengan menjalankan pembelian yang konsisten, dengan memperhatikan dua key performance indicator (KPI), yakni rasio perputaran persediaan, dan penyusunan ulang re-order point.

Rasio perputaran persediaan, dilakukan untuk mengukur lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menjual inventory, dan menghitung persediaan barang dijual dan diganti selama periode tertentu.

Sementara, re-order point merupakan jumlah persediaan minimum barang sebelum dipesan. Cara menghitungnya, adalah dengan mengalikan tingkat penggunaan harian rata-rata barang, dengan waktu tunggu pesanan, dan menambahkan stok keamanan yang diperlukan.

Ketiga, perusahaan melakukan stock keeping unit (SKU) yang berlebihan. Dead stock dapat terjadi, saat pelaku usaha menimbun berbagai macam produk. Penimbunan produk sekilas terlihat sebagai cara yang baik untuk memperluas basis pelanggan. Namun, semakin banyak SKU yang ditawarkan, maka akan ada banyak produk yang harus dikelola.

Cara menghindari dead stock karena jumlah SKU yang berlebihan, adalah dengan melakukan analisis SKU. Ini dilakukan, dengan mengidentifikasi mana produk yang berkinerja yang baik dan buruk. Semakin cepat perusahaan melihat barang-barang yang bersifat slow moving, maka perusahaan dapat menghemat biaya dan menghindari dead stock.

Keempat, kurangnya komunikasi antara manajemen dengan tim atau staf gudang. Kemungkinan yang sering terjadi, adalah staf gudang menumpuk persediaan, karena manajemen tidak mengomunikasikan jumlah persediaan yang diperlukan untuk memenuhi permintaan pelanggan dengan baik.

Cara menghindari permasalahan dead stock karena miskomunikasi ini, adalah dengan membuat laporan setiap pekan, serta melakukan briefing antara manajemen dan tim gudang.

Kelima, penjualan produk yang buruk. Dead stock bisa terjadi karena performa penjualan suatu produk yang buruk, sehingga menyebabkan menumpuknya produk tersebut di gudang.

Produk yang tidak terjual ini bisa disebabkan karena berbagai macam, seperti harganya yang terlalu tinggi, kurang menarik dibandingkan produk kompetitor, atau tidak sesuai dengan kebutuhan target pasar.

Cara menghindari dead stock karena performa penjualan ini, adalah dengan menentukan penyebab penjualan yang buruk tersebut. Caranya, dengan melakukan penyesuaian harga, serta merevisi strategi manajemen inventory.

Halaman:
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement