Memaknai Potret Ir. Soekarno pada Uang Rupiah
Wajah Ir. Soekarno menjadi salah satu pahlawan yang tertera pada uang baru Tahun Emisi 2022, untuk pecahan Rp 100 ribu. Didominasi warna merah, wajah Soekarno tidak tampil sendiri pada mata uang rupiah tersebut, namun didampingi Dr. Mohammad Hatta.
Bukan tanpa alasan wajah Ir. Soekarno terpampang pada pecahan mata uang dengan nilai terbesar di Tanah Air. Beliau memiliki jasa besar dalam memerdekakan Indonesia, sekaligus dikenal sebagai guru bangsa yang memproklamirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak 77 tahun lalu.
Selain itu sosok Soekarno juga patut menjadi teladan dilihat dari berbagai hal yang sudah beliau perjuangkan. Melansir Gramedia.com, Soekarno memiliki beberapa nama panggilan, dari Bapak Proklamator, Bung Karno, hingga Kusno yang merupakan sapaan kecilnya.
Mengenal Soekarno
Bung Karno adalah anak dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, yang lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901.Karena sakit-sakitan, Soekarno kecil dirawat kakaknya, Raden Hardjodikromo di Tulungagung, dan baru kembali tinggal dengan orang tuanya pada 1909 di Mojokerto. Saat itu, namanya diganti dari Kusno menjadi Soekarno, agar tidak lagi sakit-sakitan dan tumbuh dengan sehat.
Soekarno juga termasuk salah satu anak yang beruntung, karena bisa mengenyam pendidikan ketika Indonesia berada di bawah jajahan Belanda. Soekarno diketahui menimba ilmu di Hollandsch-Inlandsche School atau HIS Surabaya, berlanjut ke Hogere Burger School (HBS), hingga Technische Hoogeschool (THS) di Bandung. Dia memperoleh gelar insinyur setelah menamatkan pendidikan di THS yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung pada 25 Mei 1926.
Bung Karno juga dikenal sebagai orang yang cerdas, tercermin dari banyaknya bahasa yang dikuasainya. Beberapa bahasa tersebut seperti Inggris, Jepang, Belanda, Arab, Jerman dan masih banyak lagi.
Sepanjang hidupnya, Soekarno juga memiliki banyak pasangan atau istri, salah satunya Ibu Fatmawati yang menjahitkan bendera merah putih sebelum proklamasi 1945. Istri Soekarno lainnya bernama Hartini, Ratna Sari Dewi, Kartini Manopo, Haryati, Yurike Sanger, dan Heldy Djafar.
Dari pernikahannya dengan Fatmawati, Soekarno memiliki beberapa anak, yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Adapun dari pernikahannya dengan Hartini dikaruniai dua orang anak, yakni Taufan dan Bayu. Sedangkan dari pernikahannya dengan Ratna Sari Dewi, Soekarno dikarunia satu orang puteri bernama Kartika.
Sebagian keturunan Soekarno, beberapa anaknya mengikuti jejak sang ayah di dunia politik Indonesia. Sebut saja Megawati Soekarnoputri yang pernah menjabat sebagai presiden ke-5 RI, ada juga Rachmawati Soekarnoputri, dan Sukmawati Soekarnoputri yang masuk ke dunia politik. Sementara, putra Soekarno, Guntur Soekarnoputra justru tidak terjun ke dunia politik seperti ayah dan adik-adik perempuannya.
Masuk ke Dunia Politik
Soekarno muda mulai banyak belajar politik dan berlatih pidato saat berada di kediaman Cokroaminoto. Dari sana pula, Soekarno mulai mengenal dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh hebat, seperti Dr. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara. Mereka merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.
Sosok Soekarno mulai berkecimpung di dunia politik sejak 1915, ketika dia menjadi anggota Jong Java Cabang Surabaya. Kebanyakan organisasi di Indonesia menurut Soekarno masihlah Jawa Sentris yang hanya memikirkan kebudayaan saja. Hal tersebut membuat Soekarno perlu menjawab tantangan tersebut, salah satunya mencetuskan gagasan membuat surat kabar Jong Java menggunakan bahasa Melayu, bukan bahasa Belanda.
Soekarno kemudian mendirikan Algemeene Studie (ASC) di Bandung pada 1926 yang merupakan hasil inspirasi dari Dr. Soetomo di Indonesische Studie Club. Organisasi ASC inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya partai besar di Indonesia, Partai Nasional Indonesia yang lahir pada 1927. Aktifnya Soekarno di organisasi tersebut, membuat dirinya ditangkap Belanda karena dianggap membahayakan pemerintah kolonial.
Pada 29 Desember 1929 Soekarno ditangkap di Yogyakarta untuk dipindahkan ke penjara Banceuy di Bandung. Kemudian pada 1930 dipindahkan ke penjara Sukamiskin dan di tahun ini pula Soekarno mengeluarkan pledoi Indonesia Menggugat yang sangat fenomenal saat itu sampai akhirnya dibebaskan pada 31 Desember 1931. Setelah bebas dari penjara, pada 1932 Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) yang merupakan pecahan PNI karena dibubarkan dan dinyatakan dilarang oleh Belanda.
Namun keaktifannya di Partino kembali mengantarkan Soekarno pada 1933 ke pengasingan Folders, karena pergerakannya yang dianggap membahayakan Belanda. Pengasingannya yang cukup lama dan jauh, hampir membuat tokoh-tokoh nasional Indonesia lainnya melupakan keberadaan dan keterlibatan Soekarno. Alhasil, Bung Karno terus mengirimkan surat kepada Ahmad Hasan, seorang Guru Persatuan Islam.
Soekarno baru dibebaskan dari pengasingan pada masa penjajahan Jepang pada 1942. Tak lama setelah dibebaskan, pada 1943 Perdana Menteri Jepang saat itu, Hideki Toja mengundang Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo untu mendapatkan Bintang Kekaisaran (Ratna Suci). Sepanjang masa penjajahan Jepang pula, muncul berbagai organisasi, seperti Jawa Hokokai, BPUPKI, Pusat Tenaga Rakyat (Putera) hingga PPKI dengan tokoh-tokoh utama yakni Soekarno, K.H Mas Mansyur, Ki. Hajar Dewantara, dan tokoh lainnya yang aktif di organisasi pergerakan nasional.
Singkat cerita, dengan perjuangan panjang, Soekarno dan Moh. Hatta berhasil memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejak saat itu juga, Soekarno diangkat menjadi Presiden Pertama Indonesia dan mulai dikenal sebagai Sang Proklamator, didampingi Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden.