Shin Tae-yong dan Scaloni, Duo Gelandang yang Menjadi Pelatih Mahal

Dini Pramita
19 Juni 2023, 18:16
Pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong memberi arahan saat memimpin sesi latihan di Lapangan A Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (15/6/2023).
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa.
Pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong memberi arahan saat memimpin sesi latihan di Lapangan A Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (15/6/2023).

Tim nasional sepakbola Indonesia (timnas Indonesia) akan menghadapi timnas Argentina dalam laga FIFA Matchday di Stadion Utama Gelora Bung Karno, hari ini, Senin (19/6). Kedua pelatih, Shin Tae-yong dan Lionel Scaloni sama-sama optimistis dapat menyajikan pertandingan yang apik.

Pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong mengatakan laga melawan Argentina nanti bukan hanya sekadar hiburan bagi suporter Indonesia. Ia menegaskan para pemain Merah Putih menyambut laga ini dengan sangat serius dan membekali diri dengan persiapan yang tak main-main.

Menurut dia, meski turun tanpa Lionel Messi, Argentina tetap merupakan tim paling tangguh saat ini. "Ya, namanya juga mereka ranking 1, pasti seluruh pemain memiliki kualitas bagus," kata dia.

Ia berharap anak-anak asuhnya dapat belajar banyak dari pertandingan yang akan digelar malam ini.

Sementara itu, pelatih timnas Argentina Lionel Scaloni mengatakan meski tanpa pemain kawakan sekelas Messi, Di Maria dan Otamendi, Argentina akan tetap menyuguhkan permainan terbaik. "Pergantian pemain Argentina di laga ini bukan karena Indonesia lemah, tetapi saya ingin bereksperimen dan mencoba sesuatu yang baru," kata dia.

Koferensi pers jelang pertandingan Indonesia lawan Palestina
Koferensi pers jelang pertandingan Indonesia lawan Palestina (ANTARA FOTO/Moch Asim/foc.)

 

 

 

 

 

 

 



Shin Tae-yong, Gelandang Serang dengan Julukan 'Rubah Lapangan'

Shin Tae-yong memulai karier di lapangan hijau sebagai seorang pemain profesional di klub sepakbola Ilhwa Chunma yang saat ini dikenal sebagai Seongnam FC pada 1992.

Di tahun pertama bersama Ilhwa Chunma, ia mendapatkan penghargaan K-League Young Player of the Year Award. Shin Tae-yong menghabiskan 12 musim berkarier di klub ini.

Bersama Ilhwa Chunma, ia pernah mendapatkan penghargaan most valuable player (MVP) K-League pada 1995. Penghargaan serupa ia peroleh kembali pada 2001 dengan capaian 99 gol, 68 assist di 401 pertandingan.

Shin Tae-yong yang merupakan gelandang serang Ilhwa Chunma disebut-sebut sebagai salah satu pemain paling berpengaruh terhadap kesuksesan tim itu mengantongi gelar juara tiga tahun beturut-turut, 1993-1995. Pada 1995, timnya juga berhasil meraih juara dalam ajang Asian Club Championship.

Setelah tenggelam beberapa saat, Ilhwa Chunma kembali mencicipi posisi juara liga selama tiga tahun berturut-turut, 2001-2003.

Meski telah mengantongi sejumlah prestasi bersama Ilhwa Chunma, Shin Tae-yong memutuskan untuk hijrah ke Australia dan berlabuh ke tim Queensland Roar yang berlaga di A-League pada 2005.

Di klub itu, Shin Tae-yong yang diberi julukan 'rubah lapangan' oleh publik Korea Selatan mengakhiri kariernya sebagai pemain sepak bola profesional karena cedera di pergelangan kaki.

Meski begitu, Shin Tae-yong dianggap sebagai salah satu pemain K-League terbaik sepanjang masa dan menerima penghargaan K-League 30th Anniversary Best XI pada 2013.


Menjadi Pelatih Gara-gara Cedera

Cedera di pergelangan kaki membuat Shin Tae-yong harus menyingkir dari lapangan hijau sejenak. Ia kembali lagi menjadi asisten pelatih Miron Bleiberg di Queensland Roar.

Pada 2009, ia kembali ke Korea Selatan dan mengasah peran barunya di klub yang membesarkan namanya, Ilhwa Chunma yang telah berganti nama menjadi Seongnam FC.

Pada 2010, ia sukses membawa Seongnam FC menjuarai Liga Champions Asia dan menjuarai Piala FA Korea pada 2011. Dari situ, ia mendapatkan julukan baru yaitu Mourinho dari Asia karena kepiawaiannya mengatur strategi.

Shin Tae-yong memulai debut melatih timnas Korea Selatan pada 2014 dengan posisi sebagai asisten pelatih. Di bawah kepelatihan Shin, timnas Korea Selatan mampu mencapai Final Piala Asia 2015 untuk pertama kalinya dalam 27 tahun.

Pada 4 Juli 2017, Shin diangkat menjadi pelatih tim senior Korea Selatan. Ia langsung membawa anak-anak asuhannya menjuarai Kejuaraan EAFF 2017 dengan menaklukkan Jepang 4-0 dalam laga final.

Korea Selatan yang menembus putaran final Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia, mampu mengalahkan Jerman 2-0. Kemenangan itu membuat Jerman yang menyandang empat gelar juara dunia, tersingkir dari babak 16 besar untuk pertama kalinya sejak 1938.

Pada Desember 2019, Shin Tae-yong mengambil keputusan besar dengan menerima tawaran untuk menjadi pelatih timnas Indonesia. Ia diberi kontrak hingga Desember 2023.

Ia ditawari gaji sebesar Rp1,1 miliar per bulan di luar fasilitas seperti apartemen dan kendaraan.

Di bawah Shin Tae-yong, timnas Indonesia mampu bertanding hingga mencapai final Kejuaraan AFF 2020. Selain itu, ia berhasil membawa Indonesia lolos ke ajang Piala Asia 2023, mengakhiri penantian Indonesia selama 16 tahun.

Lionel Scaloni, Pelatih Muda yang Mengantarkan Argentina Juara Piala Dunia 2022

Sebelum menjadi pelatih, Lionel Scaloni tercatat pernah mengisi posisi sebagai gelandang kanan dan bek kanan di berbagai klub sepakbola profesional. Ia merintis karier sebagai pemain profesional di klub lokal Argentina Newell's Old Boys pada 1995.

Kariernya sebagai pemain terus berlanjut ke La Liga, liga sepakbola di Spanyol di bawah klub Deportivo La Coruña, lalu ke Liga Inggris di bawah klub West Ham United sebagai pemain pinjaman.

Pada 2007, ia mencicipi lapangan hijau Italia di bawah klub Lazio dan mengakhiri karier profesionalnya bersama klub Atalanta.

Separuh karier sebagai pesepakbola ia habiskan bersama Deportivo dengan mengumpulkan total 258 pertandingan dan 15 gol selama 12 musim di La Liga.


Memulai Karier Sebagai Pelatih di Sevilla FC

Scaloni memulai kariernya sebagai pelatih pada 11 Oktober 2016 di Sevilla FC, salah satu klub sepakbola Spanyol. Pada 2017, ia dilirik untuk menjadi asisten pelatih timnas Argentina mendampingi Sampaoli.

Pada November 2018, ia diangkat menjadi pelatih timnas Argentina untuk menghadapi Copa América 2019. Ia memimpin tim Argentina meraih juara ketiga dalam perhelatan tersebut.

Pada 2021, ia masih dipercaya untuk mengarsiteki tim Argentina saat bermain dalam turnamen Copa América 2021. Tim Argentina saat itu berhasil mengalahkan Brasil dengan skor 1-0 dan membawa pulang gelar juara.

Puncak prestasinya adalah ketika membawa Argentina juara dalam Piala Dunia FIFA 2022 setelah berhasil mengalahkan Prancis di laga final. Scaloni menjadi pelatih termuda yang memenangkan Piala Dunia dalam sejarah.

Scaloni merupakan salah satu pelatih dengan gaji tinggi. Ia dibayar US$ 2,65 juta atau sekitar Rp 41,65 miliar, bersaing dengan pelatih ternama dari Belanda, Louis van Gaal, yang digaji sebesar US$ 2,95 juta atau sekitar Rp 46,2 miliar per tahun.

 

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...