Pengunjung Sepi, Hanya 80% Gerai di Mal Sudah Beroperasi

Gerai retail yang kembali beroperasi hanya yang memiliki modal kuat. Pasalnya, mal atau pusat perbelanjaan masih sepi pengunjung.
Image title
Oleh Tri Kurnia Yunianto
22 Juni 2020, 18:24
mal, pusat perbelanjaan, retail
ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/aww.
Ilustrasi, pengunjung berjalan di kawasan Mal Margocity pada hari pertama pembukaan kembali pusat perbelanjaan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/6/2020).

Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat hanya 80% jumlah gerai retail yang kembali beroperasi. Hal itu disebabkan minimnya jumlah pengunjung yang berbelanja di mal atau pusat perbelanjaan sejak seminggu lalu.

Ketua Umum APPBI Stefanus Ridwan mengatakan, hingga saat ini peritel yang berani beroperasi didominasi oleh pengusaha yang memiliki modal kuat. Sedangkan yang lainnya enggan berspekulasi sambil menunggu jumlah konsumen meningkat.

"Tergantung malnya, ada yang 80% - 90%, kan bioskop belum boleh buka, spa, gym dan hiburan anak belum dibuka, itu sebabnya pengunjung belum banyak karena mereka juga mau hiburan," kata Stefanus kepada Katadata.co.id, Senin (22/6).

Menurut dia, sebagian besar peritel menutup gerai setelah pandemi corona merebak. Peritel pun mengalihkan penjualannya melalui online agar tetap mendapatkan pemasukan. Target pembeli dengan mengincar konsumen-konsumen kelas atas yang biasanya mengeluarkan uang lebih banyak untuk berbelanja di mal.

Untuk tren penjualan pun mulai bergeser dari yang sebelumnya didominasi barang-barang konsumtif menjadi barang-barang kebutuhan pokok. "Konsumen kelas atas ini kan lebih besar spending-nya tapi ada hubungan dengan toko yang lebih dekat. Mereka merupakan konsumen istimewa, walaupun ada di rumah tetap saja dapat promo-promo lewat Whatsapps ada produk baru segala macam, lalu dibeli lewat online," kata dia.

(Baca: Tren Belanja saat Normal Baru Mal Berubah, Barang Konsumtif Tak Laku)

(Baca: Mendag Sebut Kerugian Pusat Belanja Selama 2 Bulan Tutup Rp 12 Triliun)

Hal yang sama juga pernah diungkapkan oleh Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (HIPPINDO) yang menyatakan pandemi corona menyebabkan tren belanja konsumen sedikit berubah. Hal itu tampak saat pembukaan kembali mal di Jakarta.

HIPPINDO menyebut produk rumah tangga dan barang kebutuhan dasar lebih banyak dibeli dibanding barang lain seperti pakaian. Tak hanya itu, tren pembelian kini bergeser dari barang-barang yang bersifat konsumtif menjadi barang kebutuhan dasar dan kesehatan selama fase normal baru (new normal). 

Ketua Penasehat HIPPINDO Handaka Santosa mengatakan penjualan barang-barang konsumtif atau yang tidak mendesak sangat minim. Saat mal dibuka pada 15 Juni lalu, banyak orang yang membeli barang rumah tangga, seperti alat memasak dan perlengkapan kamar tidur.

"Ini mungkin dikarenakan selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mereka di rumah tidak bisa belanja apapun hampir tiga bulan," kata Handaka dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (18/6).

Seperti diketahui, mal dan pertokoan nonpangan telah dibuka sejak masa transisi PSBB pada 15 Juni 2020. Pembukaan mal tetap mengikuti penerapan protokol kesehatan yang ketat. Kemudian taman rekreasi baik itu indoor maupun outdoor mulai beroperasi pada 20 - 21 Juni 2020. 

Jika nantinya terdapat jumlah lonjakan kasus positif Covid-19, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan kembali menutup seluruh aktivitas tersebut. Upaya itu berdasarkan kebijakan rem darurat atau emergency break policy yang telah disusun pemerintah.

(Baca: Matahari Buka Bertahap 153 Toko di Jadetabek dengan Protokol Ketat)

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Video Pilihan

Artikel Terkait