Uni Eropa Diskriminatif, Pemerintah Cari Pasar Ekspor Sawit ke Afrika

Pemerintah juga akan meningkatkan ekspor sawit ke pasar Tiongkok karena ada program biodiesel 5%.
Image title
Oleh Fariha Sulmaihati
31 Juli 2019, 19:33
minyak sawit, uni eropa
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi, buah kelapa sawit. Pemerintah mencari pasar ekspor baru minyak sawit setelah Uni Eropa berencana bea masuk sawit asal Indonesia.

Uni Eropa berencana mengenakan bea masuk komoditas minyak sawit sebagai upaya penolakan masuknya komoditas Indonesia ini ke Benua Eropa. Atas kebijakan yang diskriminatif ini, pemerintah berencana memperluas pasar ekspor minyak sawit hingga ke Afrika.

Asisten Deputi Produktivitas Energi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Andi Novianto mengatakan pemerintah juga akan meningkatkan ekspor minyak sawit untuk pasar Tiongkok seiring diterapkannya program biodiesel 5% (B5). "Diharapkan Tiongkok dapat menerapkan B5 sehingga permintaan bisa naik," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (31/7).

Andi menjelaskan dampak dari pengenaan bea masuk akan membuat harga sawit Indonesia menjadi mahal di pasar Uni Eropa sehingga daya saingnya menurun. Karena itu pemerintah melakukan pembicaraan dengan Uni Eropa terkait pengenaan bea masuk ini. "Ekspor minyak sawit ke Uni Eropa akan semakin menurun. Kami telah melakukan perundingan terkait hal ini," ujarnya.

(Baca: Berkontribusi ke PDB, Pemerintah Dukung Industri Sawit Berkelanjutan)

Kebijakan Komisi Eropa yang mengklasifikasikan minyak kelapa sawit sebagai minyak nabati berisiko tinggi yang tidak berkelanjutan menuai protes keras dari pemerintah maupun kalangan pengusaha domestik. Keputusan tersebut dituding bermuatan politis lantaran bertujuan untuk mengeluarkan minyak kelapa sawit dari mandat biofuel Uni Eropa guna memproteksi minyak nabati lainnya.

"Tidak ada keraguan  ini diskriminatif, dengan latar belakang proteksionisme yang kemudian dibungkus dengan berbagai bahan ilmiah yang scientific," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, beberapa waktu lalu.

Darmin menyatakan pemerintah akan menempuh langkah perlawanan terhadap diskriminasi sawit, salah satunya membawa perselisihan tersebut ke World Trade Organization (WTO). "Selain langsung ke WTO, kami juga bisa retaliasi. Memangnya kenapa, kalau dia sepihak, masa kami tidak bisa lakukan sepihak," kata dia.

Uni Eropa merupakan pasar kedua terbesar bagi sawit Indonesia. Posisi Uni Eropa berada di bawah India, namun sebagian besar minyak sawit Indonesia memasuki Uni Eropa dengan tarif nol atau tarif yang sangat rendah (22% tanpa bea masuk dan 55% di bawah bea 5,1%). Kondisi ini menegaskan pasar ekspor Uni Eropa masih cukup bagus untuk Indonesia.

(Baca: Aprobi Sebut Bea Masuk Sawit dari Eropa Ganggu Ekspor Biodiesel )

Reporter: Fariha Sulmaihati

Video Pilihan

Artikel Terkait