Permintaan BBM Mulai Meningkat, Harga Minyak Naik ke Level US$ 41,44

Harga minyak naik disusul peningkatan permintaan BBM. Namun, kasus Covid-19 membatasi pergerakan harga komoditas tersebut.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
26 Juni 2020, 08:50
harga minyak, bbm
KATADATA
Ilustrasi, kilang minyak. Harga minyak naik dipicu permintaan bahan bakar yang mulai pulih meskipun kasus Covid-19 terus meningkat.

Harga minyak dunia merangkak naik pada perdagangan Jumat (26/6) waktu Indonesia. Kenaikkan tersebut dipicu optimisme pasar terhadap permintaan bahan bakar minyak atau BBM yang mulai pulih di seluruh dunia. 

Berdasarkan data Bloomberg pada hari ni pukul 07.35 WIB, harga minyak jenis Brent untuk kontrak pengiriman Agustus 2020 naik 0,95% ke level US$ 41,44 per barel. Sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2020 naik 0,88% ke level US$ 39,06 per barel.

Data satelit menunjukkan ada peningkatan lalu lintas di Tiongkok, Eropa, dan Amerika Serikat (AS). Analis menilai hal itu sebagai pemulihan permintaan BBM.

Perusahaan teknologi lokasi TomTom menyatakan lalu lintas di jalanan Kota Shanghai dalam beberapa pekan terakhir lebih padat dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan, lalu lintas di Moskow hampir sama pada tahun lalu.

(Baca: Harga Minyak Mulai Naik, Menteri ESDM Tak Berencana Turunkan Harga BBM)

(Baca: Sempat Anjlok 5%, Harga Minyak Masih akan Tertekan Sentimen Corona)

Namun, pergerakan harga minyak tertahan lonjakan kasus baru Covid-19 di AS. Hal itu diproyeksi menghambat pemulihan permintaan BBM.

Apalagi, beberapa negara bagian seperti Florida dan Texas merupakan konsumen bensin terbesar. "Risiko wabah baru bisa menekan pemulihan permintaan," kata ANZ Research dalam sebuah catatan dilansir dari Reuters pada Jumat (26/6).

Sentimen negatif lainnya berasal dari prospek peningkatan produksi minyak mentah AS. Hal itu berdasarkan survei Dallas Federal Reserve Bank terhadap para eksekutif di wilayah penghasil migas utama di negara tersebut.

Dari hasil survei, sebanyak sepertiga eksekutif yang telah memangkas produksinya berencana meningkatkan produksi kembali pada Juni 2020. Sedangkan 20% lainnya tetap menutup produksi pada bulan depan.

(Baca: Harga Minyak Dunia Kembali Turun Tertekan Lonjakan Persediaan AS)

 

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait