Permintaan BBM Meningkat, Harga Minyak AS Hampir Sentuh US$ 41

Permintaan BBM di AS meningkat menjadi 8,8 juta barel per hari. Hal itu mendorong kenaikkan harga minyak.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
9 Juli 2020, 08:09
harga minyak, BBM, amerika serikat
Dok. Chevron
Ilustrasi, kegiatan pengeboran minyak. Harga minyak pada Kamis (9/7) naik seiring meningkatnya permintaan BBM di Amerika Serikat.

Harga minyak dunia terdorong naik pada perdagangan Kamis (9/7) waktu Indonesia. Hal itu dipicu peningkatan permintaan Bahan Bakar Minyak atau BBM di Amerika Serikat. 

Mengutip Bloomberg pukul 07.00 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman September 2020 naik 0,49% menjadi US$ 43,29 per barel. Sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2020 naik 0,05% menjadi US$ 40,92 per barel.

Menurut data Energy Information Administration (EIA), pasokan BBM di AS turun sebanyak 4,8 juta barel seiring meningkatnya permintaan hingga 8,8 juta barel per hari. Jumlah tersebut merupakan kenaikan tertinggi sejak 20 Maret 2020.

Pemanfaatan kilang di AS juga meningkat 2%. Namun, angka tersebut lebih rendah 17% dari periode yang sama tahun lalu.

(Baca: Harga Minyak Stabil di Kisaran US$ 40 Meski Kasus Covid-19 Melonjak)

Selain itu, stok minyak mentah AS Gulf Coast naik 5 juta barel ke rekor tertinggi pada pekan lalu."Meskipun permintaan bensin selama musim panas meningkat, namun penyimpanan minyak mentah AS mendekati rekor tertinggi, hal tersebut tak sehat," kata Bob Yawger, Director of energy futures di Mizuho seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (9/7).

Di sisi lain, lonjakan baru Covid-19 terus menjadi sentimen negatif bagi harga minyak. Otoritas AS menyebut virus corona telah menginfeksi lebih dari 3 juta orang di negara tersebut. Hal itu telah mengurangi harapan cepatnya pemulihan permintaan minyak.

Sementara itu, para menteri utama di OPEC +, yang meliputi OPEC, Rusia dan produsen lainnya, dijadwalkan mengadakan pembicaraan pada minggu depan. Pembicaraan tersebut bakal membahas mengenai pengurangan produksi yang akan berlangsung hingga Juli 2020. Organisasi itu telah sepakat memangkas produksi hingga 9,7 juta barel hingga akhir bulan ini.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait