Bank Mandiri Kucurkan US$ 129 Juta untuk Biayai Kembali Utang Antam

Antam memerlukan dana untuk membayar pinjaman investasi sejumlah proyek, diantaranya pembangunan pabrik feronikel dan smelter.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
18 September 2019, 18:55
Antam
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi, logo PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Antam baru saja mendapatkan pinjaman sebesar US$ 129 juta dari Bank Mandiri.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memberikan fasilitas pinjaman kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) alias Antam sebesar US$ 129 juta. Pinjaman tersebut untuk membayar pinjaman investasi (refinancing) Antam sebelumnya yang akan jatuh tempo pada Juni 2024.

Pembiayaan kembali utang tersebut bertujuan meningkatkan efisiensi keuangan tanpa mengubah ketentuan dari pinjaman sebelumnya. Jadi, utang baru ini memiliki tingkat suku bunga mengambang (floating) yang lebih kompetitif dibandingkan tingkat bunga pinjaman sebelumnya.

"Sehingga dapat menurunkan beban keuangan perusahaan," kata Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo dalam keterangan tertulis pada Rabu (18/9).

Direktur Corporate Banking Mandiri Royke Tumilaar mengatakan, Antam perlu terus didukung dalam memperkuat kapasitas produksi dalam rangka memenuhi peningkatan kebutuhan industri lokal serta permintaan pasar internasional. "Kami berharap sinergi ini dapat meningkatkan kontribusi kedua BUMN pada pertumbuhan ekonomi nasional," kata Royke.

(Baca: Antam Anggarkan Belanja Modal Rp 3,3 triliun untuk Ekspansi Tahun Ini)

Saat ini, Antam tengah mengembangkan bisnis lewat sejumlah proyek strategis. Salah satunya adalah pembangunan pabrik feronikel di Halmahera Timur (P3FH). Hingga Ditargetkan konstruksi pabrik ini akan memasuki tahap uji coba pada semeter kedua 2019. 

Lalu, proyek Nickel Pig Iron (NPI) blust furnace yang akan memulai fase produksi pada triwulan empat 2020 pada dua line pertama dari total delapan line. Nantinya proyek NPI akan memiliki kapasitas produksi 320 ribu ton NPI atau setara dengan 30 ribu ton nikel dalam NPI (TNi).

Kemudian, proyek Smelter Grade Aluminia Refinery (SGAR), yang bekerja sama dengn PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Proyek ini dipegang oleh PT Borneo Aluminia Indonesia.

Konstruksi proyek SGAR berlangsung dalam dua tahap dengan total kapasitas produksi 2 juta ton aluminia per tahun. Nilai investasinya sebesar US$ 850 juta. Pencanangan pembangunan telah dilakukan pada tahun lalu.

Hingga semester I 2019, Antam mencatat penjualan sebesar Rp 14,43 triliun, naik 22 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 11,82 triliun. Komoditas emas masih menjadi penyumbang utama penjualan Antam yakni 67 % senilai Rp 9,61 triliun.

Dari sisi volume, penjualan emas Antam tercatat 15.741 kilogram (kg), meningkat 14 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 13.760 kg. Adapun 979 kg emas Antam berasal dari tambang Pongkor, Bogor dan Cibaliung, Banten.

(Baca: Bangun Smelter di Papua, Antam Dapat Calon Mitra Baru dari Tiongkok)

Video Pilihan

Artikel Terkait