Trump Larang Perjalanan dari Eropa ke AS, Harga Minyak Anjlok 7%

Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu merupakan respon dari penyebaaran virus corona. Akibatnya, harga minyak terus dalam tren turun.
Image title
13 Maret 2020, 08:47
harga minyak, trump, virus corona, amerika serikat
Chevron
Ilustrasi, aktivitas pertambangan minyak. Harga minyak kembali turun hingga 7% setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pelarangan perjalanan dari Eropa ke AS.

Harga minyak anjlok 7% setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan melarang perjalanan dari Eropa ke AS. Hal itu sebagai upaya menghentikan penyebaran virus corona setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan virus tersebut sebagai pandemi global.

Mengutip laman Bloomberg pada Jumat (13/3) pukul 07.27 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2020 turun 7,18% ke level US$ 33,22 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April 2020 turun 2,10% ke level US$ 30,84 per barel.

Harga minyak pun terus berada di level bawah setelah Arab Saudi berencana meningkatkan produksi minyak hingga 10 juta barel per hari pada bulan depan. Peningkatan produksi tersebut dianggap sebagai deklarasi perang harga dengan Rusia.

Hal itu lantaran Rusia tidak setuju usulan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menambah pemangkasan produksi. Pasalnya, pemangkasan produksi minyak dianggap tak ampuh menangkal dampak virus corona.

Advertisement

(Baca: Dampak Anjloknya Harga Minyak Dunia Terhadap Ekonomi dan Migas RI)

Sejak merebaknya virus corona, harga minyak terus turun. Hal itu dipicu kekhawatiran menurunnya permintaan minyak.

International Energy Agency (IEA) menurunkan proyeksi tahunan hampir 1 juta barel per hari, atau 1% dari permintaan global pada pekan ini. Adapun, permintaan minyak pada kuartal pertama 2020 turun tajam karena dampak virus corona pada aktivitas ekonomi di Tiongkok.

Harga minyak jenis Brent maupun WTI turun sekitar 50% dari puncak tertinggi yang dicapai pada Januari 2020 lalu. Harga dua jenis harga minyak itu turun tajam secara harian sejak Perang Teluk 1991.

Di sisi lain, biaya untuk pengangkutan minyak mentah dengan supertanker melonjak karena produsen utama bergegas untuk mengamankan kapal guna mengirim lebih banyak minyak mentah. Selain itu, perusahaan juga gencar mencari kapal untuk penyimpanan.

(Baca: Harga Minyak Rendah, Pelaku Industri Migas Minta Insentif Fiskal)

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait