SKK Migas Kantongi Rekomendasi Lahan 1.000 Hektar untuk Blok Masela

Image title
9 Maret 2020, 12:46
blok masela, skk migas
Katadata/Ratna Iskana
Ilustrasi, suasana stan Inpex Corporation dalam IPA Convex 2019 di Jakarta. Satuan Kerja Kehusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas atau SKK Migas mendapatkan rekomendasi lahan dari Gubernur Maluku untuk proyek Blok Masela yang dikerjakan oleh Inpex.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas akhirnya mendapatkan rekomendasi lahan dari Gubernur Maluku Murad Ismail. Dengan begitu, proyek Blok Masela bisa segera dibangun.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menyampaikan proses pembebasan lahan dan perizinan di Blok Masela memang sempat terkendala masalah lahan. Meski begitu, pihaknya selalu berdiskusi dan menyakinkan Gubernur Maluku agar dapat mendukung proses pembebasan lahan.

Dwi yakin koordinasi yang baik dengan pihak pemerintah daerah bakal memudahkan izin pengadaan lahan untuk proyek tersebut. Gubernur Maluku pun akhirnya mengeluarkan rekomendasi lahan seluas 900 hingga 1.000 hektar untuk pembangunan proyek LNG Abadi Blok Masela. 

"Misalnya, waktu kami mengajukan rekomendasi untuk penggunaan lahan kehutanan dari Gubernur Maluku. Kira-kira hanya satu minggu. Faster than recommendation," ujar Dwi berdasarkan keterangan tertulis, Senin (9/3).

(Baca: SKK Migas Antisipasi Produksi Blok Masela Tak Terserap di Pasar Global)

Selain itu, Dwi menilai dukungan dari Gubernur Maluku dan percepatan pembangunan proyek Abadi Masela akan memberikan dampak positif bagi industri hulu migas secara keseluruhan.

"Maka apa yang terjadi di proyek Abadi Masela ini diharapkan dapat menyakinkan Investor, khususnya perusahaan migas kelas dunia untuk menanamkan investasi dan teknologinya di Indonesia. Upaya mewujudkan Visi bersama 1 juta BOPD harus didukung iklim investasi yang baik", ujar Dwi.

Di sisi lain, Murad menyatakan pihaknya akan terus mendukung pembangunan proyek Blok Masela. Oleh karena itu, pihaknya tidak akan mempersulit proses perizinan dan akan terlibat dalam upaya pembebasan lahan.

"Kami membahas percepatan pembahasan lahan dan kesiapan tenaga kerja lokal, karena rencananya pembangunan infrastruktur untuk Blok Masela sudah dimulai tahun 2021," ujarnya.

Dengan rekomendasi lahan tersebut, Inpex selaku operator Blok Masela tinggal menunggu persetujuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) di fasilitas kilang LNG di darat dan Floating Production Storage and Offloading (FPSO).

Proses survei Amdal tersebut sudah dimulai sejak November 2019 lalu. Diperkirakan survei Amdal akan rampung dalam setahun mendatang, setelah melalui survei di musim kemarau dan hujan.

Di samping itu, SKK Migas dan Inpex juga terus mencari calon pembeli potensial gas dari blok tersebut. SKK Migas menargetkan produksi LNG Blok Masela sebesar 9,5 MTPA dan gas pipa sebesar 150 MMscfd. Sekitar 60% produksi Blok Masela ditargetkan terserap untuk kepentingan dalam negeri dan sisanya sebesar 40 persen untuk ekspor.

Berdasarkan data SKK Migas, total produksi gas kumulatif Blok Masela dari 2027 hingga tahun 2055 mencapai 16,38 TSCF dengan total gas yang dijual sebesar 12,95 TSCF. Selain itu, Blok Masela menghasilkan kondensat dengan kumulatif produksi sebesar 255,28 MMSTB.

(Baca: Ingin Kuasai Pasar LNG, SKK Migas Targetkan Produksi Gas 12.300 MMSCFD)

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait