Demi Proyek 35 GW, Menteri ESDM: Jangan Bangun Sumber Listrik Sendiri

Menteri ESDM menyebut pasokan dari proyek pembangkit listrik 35 ribu MW bisa tak terserap karena pertumbuhan konsumsi listrik per tahun hanya 4,5%.
Dimas Jarot Bayu
4 Maret 2020, 20:25
esdm, listrik, pembangkit listrik
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Ilustrasi, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan capaian kinerja 2019 dan program 2020 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (9/1/2020). Arifin mengimbau industri tidak membangun sumber listrik agar pasokan dari proyek 35 ribu megawatt dapat terserap.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM memproyeksi pembangunan pembangkit listrik 35 ribu megawatt (MW) bakal membuat Indonesia kelebihan pasokan listrik. Untuk itu, pemerintah mengimbau agar industri tidak membangun sistem listrik sendiri. 

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan pemerintah tengah mencari cara agar agar industri bisa memanfaatkan listrik yang dipasok oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).  "Jangan sampai ada yang memanfaatkan atau membangun sumber listrik sendiri," kata Arifin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3).

Selain itu, Arifin akan mendorong percepatan program elektrifikasi. Hingga Februari 2020, rasio elektrifikasi diketahui telah mencapai 98,6 persen. "Diharapkan tahun ini bisa 100%," katanya.

Kemudian, pemerintah berencana mengganti pembangkit-pembangkit listrik yang sudah tua, tidak efisien, serta tak ramah lingkungan. Nantinya, pembangkit-pembangkit listrik tersebut akan beralih menggunakan energi baru terbarukan (EBT).

"Ke depannya, setelah program 35.000 MW, semuanya akan fokus pada sumber energi baru dan terbarukan," katanya.

(Baca: Erick Thohir Yakin Megaproyek Listrik 35.000 MW Selesai dalam 2 Tahun)

Pemerintah memang pesimistis proyek 35 ribu MW bisa segera rampung. Sebab, pertumbuhan konsumsi listrik hingga 2019 hanya mencapai 4,5%.

Padahal, proyek tersebut dicanangkan dengan asumsi pertumbuhan konsumsi listrik sebesar 6,5% per tahun. "Kalau semua sudah berproduksi, kita akan mengalami kelebihan suplai," kata Arifin.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana menyebut program pembangunan pembangkit listrik 35 ribu MW bakal selesai pada 2029. Padahal sebelumnya pemerintah menargetkan proyek tersebut dapat rampung pada 2019.

Pemerintah pun hanya menargetkan 8.823 MW bisa masuk tahapan commercial on date (COD) hingga akhir 2020. Sedangkan realisasi operasi pembangkit listrik dalam program 35 ribu MW pada tahun lalu baru mencapai 6.811 MW.

Angka tersebut memang meningkat sebesar 2.865 MW dibandingkan dengan status akhir Oktober 2019 sebanyak 3.146 MW. Ini berarti sebesar 15.634 MW dari program 35 ribu MW akan beroperasi hingga tahun ini.

"Tahun ini merupakan puncak penyelesaian dari program 35 ribu MW. Sejumlah 8.823 MW kalau tidak ada aral melintang akan mencapai commercial operation date," kata Rida.

Sedangkan porsi total kapasitas terpasang pembangkit listrik sampai akhir 2019 mencapai 69,57 GW yang terdiri dari 60% Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), disusul Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU), dan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) sebesar 29%.

“Disusul oleh pembangkit EBT sebesar 15% dan 4,6 GW atau 6,7% dari panas bumi,” kata dia.

Untuk pembangunan jaringan transmisi sampai akhir 2019 mencapai 60.102 kms dengan rincian 59.387 dibangun PLN dan 714 kms dibangun non PLN. “Sedangkan pembangunan Gardu Induk sampai akhir 2019 mencapai sebesar 151.136 mva dengan rincian 148.641 mva dibangun PLN dan 2.495 mva dibangun non PLN,” kata dia.

(Baca: Kementerian ESDM Sebut Megaproyek 35 Ribu MW Baru Selesai 2029)

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Video Pilihan

Artikel Terkait