Luhut Proyeksikan Program Biodiesel Hanya B50, Tak Sampai Target B100

Luhut beralasan pasokan suplai minyak kelapa sawit tak cukup untuk program biodiesel 100 persen atau B100.
Image title
10 Desember 2019, 14:21
Luhut Binsar Pandjaitan, biodiesel, kelapa sawit
Arief Kamaludin | Katadata
Ilustrasi, biodiesel murni dan campuran solar dengan kadar 10 persen, 20 persen, dan 100 persen. Menteri Kordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memproyeksi program campuran biodiesel dan solar hanya capai 50% (B50) karena pasokan sawit yang tak mencukupi untuk impeletasi program B100.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan implementasi campuran biodiesel dengan solar hanya sampai 50 persen (B50). Sebab, pasokan kelapa sawit diproyeksi tidak cukup untuk mencapai target B100.

Apalagi harga minyak sawit bakal meningkat seiring bertambahnya penggunaan biodiesel sebagai bahan campuran solar. "Kita kemungkinan berhenti di B50 karena tidak cukup suplainya," kata Luhut di Gedung Kemenko Maritim, Selasa (10/12).

Meski demikian, pemerintah tetap berupaya untuk terus meningkatkan program pencampuran biodiesel dengan solar. Salah satu caranya dengan menerapkan program penanaman kembali (replanting) untuk meningkatkan jumlah produksi kelapa sawit. 

"Dengan kondisi seakarang ini hanya bisa B50. Kita bisa saja meningkat setelah beberapa tahun, bisa saja loncat B100 untuk PLN," ujarnya.

Advertisement

(Baca: Moratorium Sawit Perbaiki Tata Kelola dan Genjot Produktivitas)

Pemerintah sebenarnya sudah mengimplementasikan program B20 pada tahun ini. Pada awal tahun depan, pemerintah akan menerapkan implementasi B30. Kemudian, implementasi B40 dimulai pada 2021. "Mulai 1 Januari B30 semua sudah siap,"‎ kata Luhut.

Sebelumnya, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan implementasi B30 bisa dimulai pada awal tahun depan. Rekomendasi tersebut disampaikan berdasarkan hasil akhir rangkaian uji jalan (road test) penggunaan bahan bakar B30 pada kendaraan bermesin diesel.

Selain itu, Kementerian ESDM mengeluarkan rekomendasi teknis terkait penggunaan B30. Rekomendasi tersebut mencakup penanganan, penyimpanan hingga spesifikasi bahan bakar.

(Baca: Sambangi Istana, Ahok Lapor soal B30 hingga Mandat Khusus dari Jokowi)

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait