Demi Efisiensi, BP Indonesia Kurangi Pekerja di Proyek Tangguh

SKK Migas membantah iklim investasi hulu migas Indonesia yang kurang baik jadi penyebab BP Indonesia rumahkan karyawan.
Image title
26 November 2019, 12:03
BP Indonesia, SKK Migas
Katadata
Proyek Tangguh yang dikelola oleh BP Indonesia. BP Indonesia harus merumahkan karyawannya demi mempertahankan kegiatan usaha hulu migas yang berkelanjutan dan kompetitif.

BP Indonesia berencana merumahkan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan yang bekerja di proyek hulu migas. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) menyatakan langkah tersebut diambil demi efisiensi biaya proyek Tangguh.

Sumber Katadata di BP Indonesia menyatakan perusahaan asal Inggris itu berencana memangkas 20% dari sekitar 1.000 pekerjanya di Indonesia. Head of Country BP Indonesia Moektianto Soeryowibowo membenarkan pihaknya melaksanakan program restrukturisasi organisasi untuk proyek Tangguh. Namun, dia tidak menyebut jumlah karyawan yang terkena PHK.

"Program restrukturisasi organisasi sedang dilaksanakan dan akan berdampak pada besarnya organisasi yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis dengan tiga LNG train,"ujar Moektianto ke Katadata.co.id pada Senin (25/11).

Moektianto mengatakan restrukturisasi organisasi harus dijalankan demi mempertahankan kegiatan usaha hulu migas yang berkelanjutan dan kompetitif sesuai standar operator-operator migas besar lainnya. Biarpun begitu, perusahaan bakal tetap menjunjung keselamatan kerja.

Advertisement

"BP Indonesia melakukan perampingan dan menyederhanakan kegiatan operasinya dengan tetap menjaga faktor keselamatan, kepatuhan, dan kinerja perusahaan," ujarnya.

(Baca: BP Sebut Produksi Minyak Terus Turun Dalam 10 Tahun Terakhir)

Di sisi lain, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menyebut langkah BP memecat karyawannya merupakan upaya efisiensi demi menekan cost recovery. Dwi membantah program restrukturisasi dilaksanakan karena iklim investasi hulu migas Indonesia yang kurang baik.

"Untuk BP Tangguh enggak. Saya kira upaya untuk efisiensi operasi, itu yang selalu didorong, kan masih rezim cost recovery," ujar Dwi.

Lebih lanjut dia mengatakan jumlah pekerja yang dipecat oleh BP Indonesia tidak banyak. Dia pun yakin para pekerja BP Indonesia yang sudah ahli dalam bidang hulu migas bisa langsung mendapat pekerjaan di tempat lain, seperti proyek Blok Masela.

"Orang-orang ini kan expert, yang pasti bisa dipakai di tempat lain. Kalau dari proyek Tangguh misalnya, harapannya bisa memulai untuk Masela,"kata Dwi.

(Baca: BP Terbuka Berinvestasi Migas dengan Skema Gross Split)

BP Indonesia saat ini tercatat sebagai penyumbang produksi siap jual (lifting) gas terbesar di Indonesia sejak tahun lalu. SKK Migas mencatat realisasi lifting gas bumi dari proyek Tangguh Blok Berau, Muturi, dan Wiriagar pada 2018 naik 11,63% menjadi 192 ribu Barrel Oil Equivalent Per Day (BOEPD) dibanding tahun sebelumnya.

BP Indonesia pun sukses menggeser Pertamina Hulu Mahakam (PHM) sebagai operator utama lifting gas di Indonesia. Lifting gas PHM tahun lalu merosot 35,22% menjadi 196 ribu BOEPD turun ke urutan kedua.

Posisi ketiga penyumbang lifting gas terbesar di Indonesia ditempati Conocophillips (Grissik) Ltd berada di posisi ketiga dengan lifting 145 ribu barel. Data selengkapnya dalam grafik Databoks berikut ini :

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait