Bumi Resources: Pembangunan Fasilitas Tambang Emas Poboya Capai 90%

Bumi Resources mengharapkan produksi emas dari tambang Poboya mencapai 100 ribu ton bijih emas.
Image title
20 November 2019, 17:01
pertambangan, BMRS, Bumi Resources
www.bumiresources.com
Ilustrasi, kegiatan pertambangan PT Bumi Resources Minerals Tbk atau BMRS. Perusahaan menyatakan fasilitas pertambangan emas di Poboya telah mencapai 90%.

PT Bumi Resources Minerals Tbk atau BRMS menyatakan pembangunan fasilitas pengolahan pertambangan bijih emas di Poboya Sulawesi Tengah mencapai 90%. Setelah rampung, perusahaan akan segera uji dry run dan wet run.

Uji dry run merupakan pengoperasian masing-masing peralatan tanpa beban yang meliputi bagian dari fasilitas pengolahan bijih emas. Sedangkan, uji wet run merupakan pengoperasian seluruh peralatan secara bersamaan yang meliputi bagian dari fasilitas pengolahan bijih emas dengan air, bahan kimia, dan bijih emas.

"Apabila kedua pengujian sudah diselesaikan dengan baik, kami dapat segera memulai uji coba produksi dari lokasi tambang Poboya," kata Direktur Utama BRMS Suseno Kramadibrata, dalam keterangan resmi, Selasa (19/11).

Pada masa awal uji produksi, BMRS mengharapkan tambang emas tersebut bisa memproduksi sekitar 100 ribu ton bijih emas. Di tahun kedua ditargetkan produksi bisa meningkat hingga 180 ribu ton bijih emas. Setelah berproduksi, rencananya logam mulia tersebut akan dijual secara resmi pada tahun depan ke PT Aneka Tambang Tbk atau Antam, Pegadaian, serta diekspor.

(Baca: Bumi Resources Minerals Jual Emas ke Antam dan Pegadaian Tahun Depan)

Tambang Poboya dikerjakan oleh anak usaha BRMS yaitu PT Citra Palu Mineral (CPM). CPM memiliki konsesi pertambangan seluas 85.180 hektar, di antaranya Blok IV Anggasan, Blok V Moutong, Blok VI Roto, Blok I Poboya, dan Blok II Winehi. Total cadangan bijih emas yang dihasilkan yakni 3,9 juta ton.

Studi kelayakan proyek tambang emas tersebut telah disetujui oleh pemerintah pada 2017 lalu. Izin konstruksi dan produksi pun sudah mendapat persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada November 2017, dengan masa konstruksi tiga tahun dan periode produksi 30 tahun.

Selain tambang emas di Poboya, BRMS juga memiliki proyek tambang seng di Sumatera Utara yang dioperasikan melalui anak usaha perseroan, PT Dairi Prima Mineral (DPM), yang ditarget berproduksi pada 2021. Perusahaan memperoleh izin produksi proyek tambang pada akhir 2017. Izin produksinya selama 30 tahun dan tiga tahun konstruksi.

Perusahaan pun mempunyai proyek tembaga dan emas di Gorontalo, melalui PT Gorontalo Minerals (GMO). Tambang ini diproyeksi berproduksi pada 2022. Sebab, izin konstruksi dan produksi tambang baru diperoleh pada September 2019. Izin masa konstruksinya tiga tahun, dan masa produksi 30 tahun.

(Baca: Bangun Smelter, Bumi Minerals Jajaki Kerja Sama dengan Freeport )

Reporter: Fariha Sulmaihati

Video Pilihan

Artikel Terkait