Tiga Faktor Turunnya Kinerja Chandra Asri di Semester I 2019

Laba Chandra Asri anjlok hingga 71,4% dan pendapatannya turun sebesar 16% pada semester I 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Image title
24 September 2019, 19:19
Petrokimia, Chandra Asri
www.barito.co.id
Ilustrasi, pabrik petrokimia. Chandra Asri mencatatkan kinerja yang anjlok pada semester I 2019.

PT Chandra Asri Petrcochemical Tbk (TPIA) mencatatkan penurunan kinerja keuangan pada semester I 2019. Salah satu penyebabnya adalah turunnya harga produk petrokimia.

Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Suryandi menjelaskan turunnya harga ethylene dari US$ 930 per metrik ton (MT) pada kuartal I 2019 menjadi US$ 828 per MT di kuartal II 2019 berdampak pada pendapatan perusahaan.  Penurunan harga ethylene didorong oleh pasar yang sepi karena adanya masa liburan di Tiongkok, Jepang, dan Idul Fitri di Asia Tenggara. 

Ditambah terjadinya pemadaman listrik yang berdampak pada pendapatan perusahaan. "Di tengah permintaan yang lebih lemah secara keseluruhan ada beberapa pemadaman di unit hilir," ujar Suryandi saat ditemui di Jakarta, Selasa (24/9).

Padahal selama periode pemilihan umum (Pemilu) dan Bulan Ramadhan, harga bahan baku petrokimia berupa Naptha telah meningkat dengan rata-rata sebesar US$ 519 per MT di kuartal II 2019. Sedangkan pada kuartal I, harga Naptha hanya US$ 68 per MT.

(Baca: Krakatau Steel Gandeng Chandra Asri Bangun Pabrik Pengolah Air Laut)

Faktor kedua adalah perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-Tiongkok yang menyebabkan pasar ekspor melemah. Alhasil, harga polyproylene juga ikut turun di kuartal II 2019 menjadi US$ 1,094 per MT dari harga periode sebelumnya US$ 1.141 MT.

Ketiga, adanya pemogokan kerja di Korea Selatan menyebabkan ketatnya pasokan styrene monomer sebagai bahan baku naik menjadi US$ 1,061 per MT di kuartal II 2019. Padahal pada kuartal I 2019, harga styrene monomer hanya sebesar US$ 1,042 per MT.

Meski begitu, Suryandi mengatakan pasar petrokimia di dalam negeri masih cukup kuat. Sebab, pasokan petrokimia dalam negeri baru bisa memenuhi 40% kebutuhan dalam negeri.

"Untuk di dalam negeri memang peluangnya masih sangat besar, karena masih kurang, makanya masih banyak impor," ujarnya.

(Baca: Industri Hulu Petrokimia Belum Siap Terapkan Industri 4.0)

Adapun, TPIA mencatatkan laba bersih pada semester pertama tahun ini sebesar US$ 32,9 juta atau Rp 463,2 miliar (asumsi kurs Rp 14.080 per dolar AS). Perolehan laba tersebut turun 71,4% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 115, 2 juta.

Anjloknya laba bersih perseroan seiring pendapatan yang turun 16% dari US$ 1,2 miliar menjadi US$ 1 miliar. Di sisi lain, beban pokok turun, tetapi hanya sebesar 8,2% menjadi US$ 918 juta.

Dengan demikian, laba kotor perusahaan ikut turun dari US$ 237,81 juta menjadi US$ 134,86 juta. Adapun kerugian kurs yang berkurang signifikan akibat penguatan rupiah tak banyak membantu. TPIA mencatatkan rugi kurs turun dari US$ 7,98 juta menjadi US$ 2,29 juta.

(Baca: Industri Petrokimia Alami Stagnasi Dua Dekade Terakhir)

Reporter: Fariha Sulmaihati

Video Pilihan

Artikel Terkait