Kebakaran Hutan Tak Halangi Distribusi BBM Pertamina di Pekanbaru

Konsumsi BBM masyarakat di wilayah Pekanbaru cukup besar.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
19 September 2019, 12:56
Pertamina, BBM
Pertamina
Pertamina memberikan bantuan avtur untuk pesawat BNBP yang menangani kebakaran hutan dan lahan di Riau.

Pertamina menyatakan operasional distribusi BBM di wilayah Pekanbaru tidak terganggu meskipun terjadi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga September 2019, Pertamina telah menyalurkan lebih dari 563 juta liter premium.

Sedangkan konsumsi BBM masyarakat Pekanbaru cukup tinggi. Untuk jenis pertamax series mencapai 15,3 juta liter, dex series sebanyak 4,8 juta liter, dan solar subsidi sebanyak 568 juta liter. 

Selain menyalurkan BBM, Unit Manager Communicaion, Relation & CSR Marketing Operation Region (MOR) I Roby Hervindo mengatakan Pertamina mendukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam menanggulangi karhutla dengan mengoperasikan satu unit refueller Avtur berkapasitas 16 Kilo Liter (KL).

Refueller dikirimkan ke Bandara Japura Rengat dari Bandara Sultan Syarif Khasim (SSK) II dan sudah beroperasi sejak Rabu (11/09) pekan lalu. “Rata-rata konsumsi avtur untuk helikoper water bombing BNPB sebesar 4 ribu liter per hari. Kami juga mengirimkan tim refueling dan awak bridger, khusus untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar helikopter," ujar Roby dalam siaran pers pada Kamis (19/9).

(Baca: Darurat Kabut Asap Kebakaran Hutan Setiap Tahun)

Di sisi lain, Pertamina MOR I Branch Riau juga membagikan 5.300 masker kepada konsumen yang dibagikan di 53 SPBU wilayah Riau. Adapun untuk masyarakat di sekitar Terminal BBM (TBBM) Sei Siak, dibagikan sebanyak 500 masker beserta makanan tambahan seperti vitamin dan susu.

Berdasarkan data BNPB per Sabtu (14/9), indeks standar pencemar udara (ISPU) tertinggi di wilayah Pekanbaru mencapai 269, Dumai 170, Rohan Hilir 141, Siak 125, Bengkalis 121, dan Kampar 113.

Kualitas udara yang diukur dengan ISPU memiliki kategori baik (0 - 50), sedang (51 - 100), tidak sehat (101 - 199), sangat tidak sehat (200 - 299), dan berbahaya (lebih dari 300). BNPB juga mencatat luas lahan yang terbakar mencapai 49.266 hektare. Terdiri dari 40.553 hektare lahan gambut dan 8.713 hektare lahan mineral.

(Baca: Pemerintah Belum Siapkan Sanksi untuk Pemda Terkait Kebakaran Hutan)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait