Naik Tipis, Harga Minyak Indonesia Juli 2019 Sebesar US$ 61,32/Barel

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu kenaikan harga minyak Indonesia.
Image title
5 Agustus 2019, 19:01
harga minyak mentah indonesia, ICP
KATADATA
Ilustrasi, pengeboran minyak lepas pantai. Tim Harga Minyak Indonesia menyatakan ICP pada Juli 2019 naik tipis menjadi US$ 61,32 per barel.

Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pendorong naiknya harga minyak mentah Indonesia (ICP). Rata-rata ICP pada Juli 2019 naik tipis sebesar US$ 0,32 per barel dari US$ 61 per barel pada Juni 2019 menjadi US$ 61,32 per barel. Sementara ICP SLC Juli 2019 juga mengalami peningkatan sebesar US$ 0,14 per barel dari US$ 61,84 per barel menjadi US$ 61,98 per barel.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin panas menyusul peningkatan pengadaan uranium Iran yang dianggap melanggar perjanjian nuklir yang diteken pada 2015. Selain itu, penangkapan kapal tanker Iran di selat Gibraltar oleh Inggris dan dua kapal tanker minyak Inggris di Selat Hormuz oleh Iran, serta penembakan drone milik Iran oleh Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz turut meningkatkan ketegangan di wilayah Timur Tengah. 

Di sisi lain, OPEC dan negara-negara Non OPEC menyepakati perpanjangan pemotongan produksi minyak hingga akhir Maret 2020. "Produksi minyak mentah OPEC pada bulan Juni 2019 turun sebesar 68.000 barel per hari menjadi sebesar 29,8 juta barel dibandingkan bulan sebelumnya juga menjadi penyebab kenaikan harga minyak," ujar Tim Harga Minyak Indonesia seperti dikutip dari website resmi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Ditjen Migas) pada Senin (5/8).

(Baca: Kejar Target Lifting Migas, Pertamina EP Genjot Pengeboran 100 Sumur)

Advertisement

Berkurangnya stok minyak mentah AS pada Juli 2019 pun menjadi pendorong naiknya harga minyak mentah Indonesia. Energy Information Administration (EIA) melaporkan, stok crude oil AS pada Juli 2019 turun sebesar 32 juta barel menjadi sebesar 436,5 juta barel dibandingkan stok bulan lalu.

Menurunnya stok minyak mentah AS disebabkan topan Barry yang menyerang beberapa fasilitas produksi di Teluk Mexico. Selain itu, terjadi peningkatan permintaan minyak mentah AS oleh negara-negara importir minyak menyusul penurunan permintaan untuk Middle East Grades akibat ketegangan geopolitik di wilayah tersebut.

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh penambahan kuota impor Pemerintah China kepada beberapa kilang di China dengan total minyak mentah mencapai 56,85 juta metrik ton. Kebijakan tersebut mampu meningkatkan permintaan minyak mentah di China sebesar 1,2% menjadi 6,6 juta barel per hari dan sebesar 1% di Taiwan menjadi 970 ribu barel per hari dibandingkan dengan awal bulan Juli 2019.

Selengkapnya perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan Juli 2019 dibandingkan Juni 2019 sebagai berikut :

-WTI (Nymex) naik sebesar US$ 0,33 per barel dari US$ 54,71 per barel menjadi US$ 55,04 per barel.
-Basket OPEC naik sebesar US$ 1,75 per barel dari US$ 62,92 per barel menjadi US$ 64,67 per barel.
-Brent (ICE) naik sebesar US$ 1,17 per barel dari US$ 63,04 per barel menjadi US$ 64,21 per barel.

Kecuali Dated Brent mengalami penurunan sebesar US$ 0,06 per barel dari US$ 64,10 per barel menjadi US$ 64,04 per barel.

(Baca: Lifting Migas Rendah, Jonan Minta Pertamina Produksi Migas Lebih Cepat)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait