Kembali Erupsi, Status Tangkuban Parahu Naik Jadi Waspada

Gunung Tangkuban Parahu kembali erupsi sejak Kamis (1/8) pukul 20:46 WIB. Ancaman bahaya sekitar 1,5 km.
Image title
2 Agustus 2019, 13:28
 esdm, gunung tangkuban parahu
ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI
Petugas berjaga di samping seismograf yang merekam pergerakan aktivitas Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu di pos pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Cikole, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (2/8/2019).

Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menaikkan status Gunung Tangkuban Parahu dari level I (Normal) menjadi level II (Waspada). Peningkatan status mulai berlaku efektif pada Jumat (2/8) pukul 08.00 WIB.

Masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki dilarang mendekati kawah puncak Gunung Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 Km. PVMBG akan mengevaluasi terus menerus aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu untuk mengantisipasi tingkat aktivitas dan potensi ancaman erupsi.

"Ancaman bahaya yang terjadi saat ini berupa hujan abu serta hembusan gas vulkanik dengan konsentrasi berfluktuasi di sekitar Kawah Ratu yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa pengunjung, pedagang, dan masyarakat sekitar, " kata Kasbani dalam siaran pers pada Jumat (2/8).

Saat ini aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu berada dalam kondisi yang belum stabil dan potensi erupsi dapat berubah sewaktu-waktu. Erupsi freatik dan hujan abu di sekitar kawah juga berpotensi terjadi tanpa ada gejala vulkanik yang jelas.

Advertisement

Hasil pemantauan PVMBG secara visual pasca erupsi yang terjadi pada tanggal 26 Juli 2019 menunjukkan aktivitas permukaan didominasi hembusan asap dari kawah utama (Kawah Ratu) dengan ketinggian sekitar 20 - 200 meter dari dasar kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.

(Baca: Gunung Tangkuban Parahu Kembali Erupsi, Kamis Malam 1 Agustus)

Seperti diketahui, erupsi Gunung Tangkuban Parahu kembali terjadi pada 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 180 m dari dasar kawah (sekitar 2284 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu condong kearah utara dan timur laut.

Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi sekitar 11 menit 23 detik. Pada 2 Agustus 2019 pukul 00:43 WIB erupsi terjadi dengan tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi sekitar 3 menit 6 detik. Erupsi kembali terjadi pada pukul 01:45, 03:57 dan 04:06 (masih berlangsung hingga saat ini) WIB. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale).

Secara seismik, aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih didominasi oleh gempa- gempa berupa Gempa Hembusan yang mencerminkan aktivitas di kedalaman dangkal. Setelah erupsi terjadi, rekaman seismik didominasi oleh gempa Hembusan dan Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-31 mm (dominan 0.5-20 mm). Terekamnya Tremor ini berkaitan dengan pelepasan tekanan berupa hembusan-hembusan yang terjadi sampai saat ini diikuti oleh rangkain erupsi tanggal 1 dan 2 Agustus 2019.

(Baca: Tangkuban Parahu Erupsi, Masyarakat Diminta Hindari Kawasan Wisata)

Selanjutnya, PVMBG merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut :

1. Masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati kawah yang ada di puncak gunung dalam radius 1,5 Km dari kawah aktif, mewaspadai meningkatnya konsentrasi gas-gas vulkanik, dan dihimbau tidak berlama-lama berada di sekitar kawah aktif Gunung Tangkuban Parahu agar terhindar dari paparan gas yang dapat berdampak bagi kesehatan dan keselamatan jiwa.

2. Masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala vulkanik yang jelas.

3.Masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu diharap tenang, beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu-isu tentang letusan Gunung Tangkuban Parahu, tetap memperhatikan perkembangan kegiatan Gunung Tangkuban Parahu yang dikeluarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.

4.Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (BPBD Provinsi Jabar) dan BPBD Kabupaten Bandung Barat serta BPBD Kabupaten Subang.

(Baca: Gempa dan Tsunami Terdahsyat di Indonesia Selama Dua Dekade)

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait