Laba Pertamina Kuartal I 2019 Capai US$ 667 Juta, 44% dari Target

Pertamina menargetkan laba US$ 1,5 miliar tahun ini, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang sebesar US$ 2,53 miliar.
Image title
27 Juni 2019, 19:52
laba pertamina kuartal I 2019, kinerja keuangan pertamina
Katadata | Arief Kamaludin
Ilustrasi, logo Pertamina. Pertamina menargetkan pertumbuhan pendapatan pada tahun ini sebesar 2% dari tahun lalu sebesar US$ 57,9 miliar menjadi US$ 59,05 miliar.

Pertamina mencatat laba kuartal I 2019 sebesar US$ 667 juta. Perolehan laba tersebut mencapai 44,46% dari target sepanjang tahun yang sebesar US$ 1,5 miliar.

Direktur Keuangan Pertamina Pahala N. Mansury mengatakan, perolehan laba ditopang oleh membaiknya kinerja bisnis hulu dan hilir migas. Di samping itu, pergerakan harga minyak mentah dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"Kinerja hilir kami membaik, dari sisi perkembangan produksi hulu kami juga menunjukkan adanya perkembangan," kata dia saat ditemui di Gedung Komisi VI DPR, Kamis (27/6).

(Baca: Pertamina Alokasikan Rp 27,4 Triliun untuk 98 Proyek Hulu Migas)

Pahala menyebut kinerja hulu dan hilir lebih baik karena adanya peningkatan penyerapan minyak mentah dalam negeri. Selain itu, Pertamina juga berhasil menurunkan impor Bahan Bakar Minyak (BBM). "Penurunan impor khususnya untuk avtur dan solar," kata dia.

Tahun lalu, Pertamina mencatatkan laba sebesar US$ 2,53 miliar atau sekitar Rp 35,99 triliun, turun tipis 0,3% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$ 2,54 miliar. Capaian ini mengagetkan lantaran per Juni 2018, torehan laba baru sekitar Rp 5 triliun.

(Baca: Kinerja 2018 Pertamina Tertolong Piutang & Subsidi BBM dari Pemerintah)

Pertamina mampu meningkatkan labanya hingga Rp 36 triliun dalam waktu enam bulan karena piutang selisih harga bahan bakar minyak (BBM) penugasan dan subsidi dari Pemerintah yang melonjak drastis sebesar 57,6%, dari US$ 3,57 miliar pada 2017 menjadi US$ 5,63 miliar tahun lalu.

Untuk tahun ini, Pertamina menargetkan pendapatan sebesar US$ 59,05 miliar, naik 2% dari realisasi tahun lalu US$ 57,9 miliar. Sedangkan belanja modal ditargetkan sebesar US$ 5,5 miliar. Kemudian, laba ditargetkan US$ 1,5 miliar, turun 40,7% dibandingkan tahun lalu.

 

Video Pilihan

Artikel Terkait