Stok LNG Menumpuk, Pertamina hingga Chevron Sesuaikan Produksi Gas

SKK Migas menyebut LNG yang tidak diserap industri dalam negeri akan dijual ke pasar spot dengan harga yang rendah.
Image title
13 Mei 2020, 17:51
produksi gas, lng, pertamina, chevron, skk migas
www.badaklng.co.id
Ilustrasi, fasilitas kilang Badak LNG. SKK Migas menyatakan pasokan LNG di Kilang Badak menumpuk karena penyerapan gas industri sangat rendah. Alhasil, perusahaan migas seperti Pertamina hingga Chevron diminta menyesuaikan produksi.

Pandemi corona membuat penyerapan gas industri turun drastis hingga mengakibatkan pasokan gas alam cair atau LNG melimpah. Dampaknya, perusahaan migas seperti Pertamina hingga Chevron harus menyesuaikan produksi gas.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas menyatakan konsumen gas telah mengurangi pengambilan LNG dari komitmen awal pada tahun ini. Seperti yang dilakukan oleh PT Pupuk Kalimantan Timur dan PT. Kaltim Methanol Industri.

Kedua perusahaan mengurangi penyerapan gas karena harga produksi yang rendah. Akibatnya, terdapat penumpukan LNG di Kilang LNG Badak, Bontang, Kalimantan Timur.

"Penumpukan LNG di Badak mengakibatkan hulu harus menyesuaikan produksi untuk menghindari top tank LNG," ujar Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno kepada katadata.co.id, Rabu (13/5).

Advertisement

Lebih lanjut, Julius memproyeksi, kondisi tersebut bakal berlangsung hingga Agustus 2020. Oleh karena itu, SKK Migas berharap kontraktor migas bisa mengoptimalkan pekerjaan untuk menyesuaikan produksi gas.

Di sisi lain, pihaknya bakal berupaya maksimal menjual stok LNG yang ada di pasar spot. Meskipun LNG tersebut harus dijual dengan harga yang murah.

(Baca: Pandemi Corona Menyulitkan SKK Migas Gaet Pembeli Gas Blok Masela)

Adapun pasokan gas di sistem Kalimatan Timur berasal dari beberapa perusahaan migas, diantaranya ENI, Pertamina Hulu Mahakam, Pertamina Hulu Sanga Sanga, Pertamina Hulu Kaimantan Timur, Chevron, dan Mubadala. 

Sebelumnya, Pertamina Hulu Mahakam menyatakan bakal mengurangi produksi pada tahun ini. Caranya dengan memangkas penggunaan rig, dari empat menjadi dua rig. Selain itu, perusahaan mengurangi kegiatan pengeboran dari 117 menjadi 85 sumur di Blok Mahakam.

General Manager Pertamina Hulu Mahakam John Anis menjelaskan perusahaan kesulitan mencari pembeli di tengah anjloknya harga minyak. Padahal kinerja dari produksi Blok Mahakam pada kuartal pertama tahun ini sangat baik.

"Meskipun produksi kami sedang bagus-bagusnya hingga kuartal I 2020, tetapi ada high inventory di Bontang yang beresiko membuat tangki penuh. Produksi kami diminta untuk mulai diturunkan," kata John kepada katadata.co.id, Selasa (12/5).

(Baca: Ada Pandemi Corona, Pertamina Takut Produksi Blok Mahakam Tak Terserap)

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait