Tensi AS-Tiongkok Meningkat, Harga Minyak Jatuh Ke Level US$ 31

Selain hubungan AS-Tiongkok yang semakin panas, harga minyak juga tertekan ketidakpastian pemotongan produksi negara OPEC+.
Image title
28 Mei 2020, 08:46
harga minyak, amerika serikat, tiongkok
Dok. Chevron
Ilustrasi, aktivitas produksi minyak. Harga minyak kembali jatuh setelah hubungan AS-Tiongkok memanas.

Harga minyak dunia kembali anjlok pada perdagangan Kamis (28/5) dipicu hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok yang semakin memanas. Selain itu, ketidakpastian pengurangan pasokan oleh negara anggota OPEC+ semakin menekan harga komoditas tersebut.

Mengutip data Bloomberg pada hari ini pukul 07.34 WIB, harga minyak jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2020 turun 2,16% menjadi US$ 33,99 per barel. Sedangkan, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli 2020 turun 2,99% ke level US$ 31,83 per barel.

Hubungan dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia semakin tegang setelah Presiden AS Donald Trump merespon Undang-Undang Keamanan di Hong Kong yang diusulkan oleh Tiongkok. Sekretaris Negara AS Mike Pompeo menyatakan Hong Kong tidak lagi memerlukan perlakuan khusus berdasarkan hukum AS.

Sebab, undang-undang keamanan tersebut bisa menjadi pukulan terhadap status Hong Kong sebagai pusat keuangan utama. Di sisi lain, pasar ragu akan komitmen Rusia untuk mengurangi produksi minyak pada tahun ini.

Advertisement

(Baca: Permintaan BBM Belum Pulih, Harga Minyak Turun ke Level US$ 33)

(Baca: AS Ancam Sanksi atas UU Keamanan Hong Kong, Tiongkok Tak Tinggal Diam)

Padahal, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman sempat berdiskusi melalui sambungan telepon terkait kelanjutan pemangkasan produksi minyak. Namun, pelaku pasar menilai Rusia mengirimkan sinyal yang meragukan jelang pertemuan OPEC+ yang digelar dua minggu ke depan. 

Adapun kelompok OPEC + sebelumnya sepakat memotong produksi hampir 10 juta barel per hari (bph) pada periode Mei dan Juni 2020. "Sepertinya meyakinkan di atas kertas, tetapi pasar menahan kegembiraan sampai mendapatkan rincian lebih lanjut tentang jumlah pemangkasan produksi dan janga waktunya," ujar Analis senior Phil Flynn di Price Futures Group seperti dilansir dari Reuters.

Selain itu, pandemi corona masih menjadi sentimen negatif bagi harga minyak. Sebab, penyebaran Covid-19 telah memukul ekonomi secara global.

Ekonom menyebut 2 juta orang di Amerika mengajukan aplikasi awal untuk asuransi pengangguran minggu lalu. Sedangkan ekonomi zona euro diprediksi akan menyusut antara 8% dan 12% tahun ini.

(Baca: Corona Belum Usai, BI Ramal Pertumbuhan Ekonomi Dunia 2020 Minus 2,2%)

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait