Kementerian ESDM Prediksi Harga Batu Bara Baru Mulai Naik Tahun Depan

Kementerian ESDM memproyeksi harga batu bara bisa kembali naik tahun depan jika pandemi corona mulai reda pada tahun ini.
Image title
5 Juni 2020, 18:04
esdm, batu bara, pertambangan, minerba, covid-19, pandemi corona, virus corona
ANTARA FOTO/Aji Styawan
Ilustrasi, kapal tongkang pengangkut batu bara di wilayah perairan Zona Konservasi Taman Nasional Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, Senin (9/12/2019). Kementerian ESDM memproyeksi harga batu bara kembali naik pada tahun depan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM menyebut harga batu bara bisa kembali naik pada tahun depan. Hal itu bisa terwujud jika pandemi corona mulai reda pada tahun ini. 

Direktur Penerimaan Minerba Kementerian ESDM Johnson Pakpahan mengatakan laporan Wood Mackenzie menunjukkan adanya pemulihan harga batu bara. "Diprediksi membaik mulai 2021 dengan harga acuan batu bara US$ 66 per ton hingga US$ 67 per ton," ujar Johnson dalam diskusi media secara virtual, Jumat (5/6).

Sedangkan harga komoditas tersebut pada akhir tahun ini akan bergerak di level US$ 59 hingga US$ 61 per ton. Salah satu faktor pendukungnya yaitu peningkatan kebutuhan listrik seiring dibukanya kembali aktivitas perekonomian. 

(Baca: Calon Dirjen Minerba Mengerucut ke 6 Nama, Ada Deputi Menko Marinves)

Advertisement

(Baca: RUU Minerba Menjamin Perpanjangan Kontrak Perusahaan Batu Bara)

Adapun HBA pada Juni kembali terkoreksi ke level US$ 52,98 per ton atau turun US$ 8,13 per ton dari Mei 2020 sebesar US$ 61,11 per ton. Minimnya pergerakan ekonomi membuat pasar permintaan batu bara turut turun, terutama di India dan Tiongkok. 

"Stok batu bara di India dan Tiongkok terbilang cukup tinggi. Mereka masih memanfaatkan produksi dalam negeri sendiri," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam siaran pers pada hari ini.

Menurut Agung, pengurangan suplai batu bara dari Indonesia tak lepas dari dampak penyebaran Covid-19 yang membatasi pergerakan ekonomi masing-masing negara. Pasalnya, ada kecenderungan peralihan ke sumber energi alternatif dalam negeri.

"Itu juga jadi pemicu utama selain meningkatkannya hubungan Tiongkok-Australia," kata Agung. 

Agung mengakui, HBA mengalami tren penurunan semenjak pandemi corona pada pertengahan Maret 2020. Sempat menguat hingga 0,28% di angka US$ 67,08 per ton pada Maret 2020, HBA turun ke level US$ 65,77 per ton pada April 2020.

Sebagai informasi, HBA diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal per kilogram GAR.

Nantinya, harga ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batu bara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

(Baca: Permintaan Lesu Imbas Corona, Harga Batu Bara Turun Menjadi US$ 65,77)

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait