Harga Minyak Stabil di Kisaran US$ 40 Meski Kasus Covid-19 Melonjak

Data ekonomi yang positif mendukung harga minyak di tengah kenaikkan kasus Covid-19 yang dapat menyebabkan penurunan permintaan bahan bakar.
Image title
8 Juli 2020, 08:39
harga minyak, covid-19, virus corona, pandemi corona
KATADATA
Ilustrasi, kilang minyak. Harga minyak stabil di kisaran US$ 40 ditopang data ekonomi yang positif meski kasus baru Covid-19 terus meningkat.

Harga minyak dunia cenderung bergerak stabil pada perdagangan Rabu (8/7) waktu Indonesia. Meskipun, pelaku pasar khawatir terhadap lonjakan kasus virus corona yang dapat melemahkan permintaan bahan bakar.

Mengutip Bloomberg pukul 07.00 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman September 2020 turun 0,05% menjadi US$ 43,08 per barel. Sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2020 turun 0,52% menjadi US$ 40,41 per barel.

Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago mengatakan harga minyak sempat naik ditopang proyeksi permintaan yang meningkat. Energy Information Administration (EIA) memproyeksi permintaan minyak global akan pulih pada akhir 2021.

(Baca: Harga Minyak Kembali Naik Ditopang Data Ekonomi Global yang Positif)

Advertisement

Kemudian, permintaan minyak bakal mencapai 101,1 juta barel per hari (bph) pada kuartal keempat tahun berikutnya. Harga minyak juga mendapat dorongan dari kenaikkan ekuitas setelah survei Pembukaan Pekerjaan dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) Amerika Serikat (AS) untuk periode Mei 2020 menunjukkan kenaikan bulanan terbesar.

Namun, harga minyak mendapat tekanan dari lonjakan kasus baru Covid-19. Berdasarkan survei Reuters, ada 16 negara bagian AS yang melaporkan rekor peningkatan kasus baru virus corona dalam lima hari pertama bulan ini.  Australia juga melaporkan adanya peningkatan kasus baru.

Di sisi lain, Arab Saudi menaikkan harga jual resmi minyak mentah untuk pengiriman Agustus 2020. Hal itu sebagai tanda adanya permintaan yang meningkat. Namun, beberapa analis mengatakan langkah tersebut dapat membebani margin penyulingan yang sudah buruk.

 

 

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait