Harga Minyak AS Turun di Tengah Harapan Penemuan Vaksin Virus Corona

Kasus Covid-19 yang terus meningkat menekan harga minyak.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
21 Juli 2020, 08:20
harga minyak, covid-19, virus corona, vaksin virus corona, pandemi corona
KATADATA
Kilang minyak. Harga minyak bergerak bervariasi pada Selasa (21/7) di tengah harapan penemuan vaksin virus corona.

Harga minyak dunia bervariasi pada Selasa (21/7) pagi waktu Indonesia. Hal itu dipicu lonjakan kasus baru Covid-19 di sejumlah negara, meski ada harapan penemuan vaksin virus corona.

Mengutip Bloomberg pada hari ini pukul 07.00 WIB, harga minyak Amerika Serikat (AS) atau West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Agustus 2020 turun 0,29% menjadi US$ 40,69 per barel. Sedangkan harga minyak jenis Brent untuk kontrak September 2020 naik tipis 0,32% menjadi US$ 43,26 per barel.

"Kemungkinan harga tidak menghasilkan keuntungan yang cukup besar dalam waktu dekat, sampai ada sinyal pandemi akan melambat," kata Kepala Pasar Minyak Rystad Energy Bjornar Tonhaugen dilansir dari Reuters pada Selasa (21/7).

Harga minyak dalam beberapa bulan terakhir terus tertekan lonjakan kasus Covid-19. Hingga saat ini, lebih dari 14,5 juta orang telah terinfeksi oleh virus tersebut, dan lebih dari 604.000 meninggal dunia.

Lonjakan kasus baru virus corona menyebabkan permintaan bensin di AS menurun. Padahal, permintaan bahan bakar minyak atau BBM sempat pulih dari penurunan 30% pada April 2020 setelah banyak negara memberlakukan karantina wilayah. 

Selain itu, meningkatnya ketegangan antara Tiongkok dan AS ikut memberi tekanan pada harga minyak. Kedutaan besar Tiongkok di Myanmar pada Minggu (19/7) menuduh AS 'memanasi' negara tersebut hingga memicu pertikaian antara Tiongkok dan tetangga-tetangga Asia Tenggara atas Laut Cina Selatan dan Hong Kong.

Meski begitu, harga minyak mendapat dukungan dari potensi penemuan vaksin corona. Terdapat tiga kelompok ilmuwan yang menyatakan penemuan vaksin virus tersebut menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Vaksin virus corona yang dikembangkan oleh AstraZeneca (AZN.L) dan Universitas Oxford Inggris menunjukkan respons kekebalan dalam uji klinis tahap awal dan aman bagi pasien. Vaksin tersebut diharapkan dapat digunakan pada akhir tahun ini.

Pabrikan obat Amerika Serikat dan CanSino Biologics China juga melaporkan hasil positif untuk kandidat vaksin corona. Mereka telah menguji lebih dari 150 kemungkinan vaksin dalam berbagai tahap pengembangan.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait