Dukung Petani & UMKM, BPDPKS Akan Luncurkan Hand Sanitizer dari Sawit

Produk sabun dan hand sanitizer dari kelapa sawit akan diluncurkan pada 17 Agustus 2020.
Image title
8 Agustus 2020, 09:15
kelapa sawit, petani, umkm
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/NZ.
Ilustrasi, petani memetik tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Desa Pasi Kumbang, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Kamis (11/6/2020). BPDPKS mengembangkan sabun dan hand sanitizer dari kelapa sawit.

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tengah mengembangkan produk sabun dan hand sanitizer dari kelapa sawit. Hal itu untuk mendorong produktivitas petani dan penjualan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di tengah pandemi Covid-19.

Plt Direktur Kemitraan BPDPKS Muhammad Ferian mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Pusat Penelitian Surfaktan dan Bionenergi (SBRC IPB University) dan UMKM binaan untuk mengembangkan sabun dan penyanitasi tangan dari sawit.

"Kami kerja sama dengan petani atau kelembagaannya untuk produksi produk-produk yang dibutuhkan selama pandemi," kata Muhammad dalam sebuah webinar, Jumat (7/8).

Menurutnya, produk sabun dan penyanitasi tangan tersebut akan diluncurkan pada bulan ini. Momennya bersamaan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Advertisement

Selain itu, pihaknya bekerja sama dengan petani untuk mengembangkan produk pangan dan bahan bakar berbasis sawit. Harapannya, produk tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi petani.

Langkah selanjutnya, BPDPKS menyiapkan petani swadaya sebagai pemasok bahan baku industri biohidrokarbon. Pihaknya juga mendorong pemberdayaan UMKM dengan cara menyiapkan kebun yang memiliki produktivitas tinggi melalui program peremajaan rakyat dan penyedia sarana prasarana perkebunan.

Selain itu, mendukung riset pembuatan demo plant produksi biohidrokarbon berbasis sawit, pembuatan katalis berbahan sawit, serta pembentukan data perkebun dan kebun dalam rangka integrasi kebun dan fasilitas refineri.

Asisten Deputi Pertanian dan Perkebunan Kementerian Koperasi dan UKM Dewi Syarlen mengatakan petani sawit menghadapi tantangan dari faktor internal dan eksternal selama pandemi. Dari sisi eksternal, harga Tandan Buah Sawit (TBS) mudah berfluktuasi akibat sentimen dari Tiongkok dan India.

Dari sisi internal, tantangan berasal dari pengurangan jumlah tenaga kerja di sekitar kebun untuk mengurangi dampak Covid-19. "Jadi petani swadaya rentan ketika terjadi perbatasan aktivitas karena berdampak pada penurunan serapan TBS," ujar dia.

Pihaknya pun telah melaksanakan sejumlah upaya untuk membantu petani. Beberapa di antaranya kemitraan di sektor pertanian dan usaha besar, relaksasi dan restrukturisasi kredit, dan digitalisasi sektor pertanian secara aktif. Upaya tersebut diharapkan dapat meringankan beban petani selama masa pandemi Covid-19.

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait