AS Sebut Produksi Migas di Teluk Meksiko Berhenti Karena Ancaman Badai

Pemerintah AS telah mengevakuasi pekerja di 114 anjungan migas yang berada di Teluk Mexico karena ancaman dua badai besar yang akan menghantam wilayah tersebut.
Image title
Oleh Febrina Ratna Iskana
24 Agustus 2020, 08:25
amerika serikat, produksi migas
Pertamina Hulu Energi
Ilustrasi, anjungan migas lepas pantai. Pemerintah AS menyebut sebesar 58% kapasitas produksi migas di Teluk Mexico terpaksa ditutup akibat ancaman badai.

Sejumlah perusahaan energi terpaksa menghentikan produksi migas di perairan Teluk Mexico. Keputusan tersebut diambil karena ancaman dua badai besar yang akan menghantam wilayah tersebut, yaitu Badai Marco dan Badai Tropis Laura.

Dilansir dari Reuters, Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan sebesar 57,6 persen kapasitas produksi minyak di Teluk Mexico terpaksa ditutup akibat badai. Jumlah produksi minyak tersebut setara dengan 1,07 juta barel minyak per hari (bpod).

Perusahaan energi juga menghentikan produksi gas sebesar 44,6% dari kapasitas produksi di wilayah tersebut. Itu berarti ada pegurangan produksi gas sebesar 1,205 MMSCFD.

Seluruh pekerja di 114 anjungan migas telah dievakuasi dari perairan tersebut. Adapun, total anjungan migas yang berada di Teluk Mexico mencapai 643 anjungan.

Selain pekerja migas, Reuters melaporkan bahwa Badai Marco dan Laura telah menyebabkan ribuan warga di Louisiana, AS dan Cuba mengungsi. Badai tersebut juga mengakibatkan banjir di ibu kota Haiti.

Badai Marco pada Minggu (23/8) telah bergerak dengan kecepatan 75 mph. Badai itu diperkirakan mendarat di sepanjang pantai Louisiana pada hari ini, Senin (24/8).

Sedangkan Badai Laura yang melanda Republik Dominika dan Haiti pada Minggu pagi telah menewaskan sedikitnya 10 orang, sebelum bergerak ke Kuba pada malam hari. Badai itu diperkirakan akan semakin kuat dan mendarat di Texas serta Louisiana pada Kamis (27/8).

Video Pilihan

Artikel Terkait