Kinerja Semester I Anjlok, Pertamina Yakin Cetak Laba di Akhir Tahun

Pertamina optimistis kinerja perusahaan akan lebih baik pada akhir tahun karena harga minyak beranjak naik.
Image title
24 Agustus 2020, 14:02
pertamina, bumn, migas, harga minyak
Katadata | Arief Kamaludin
Ilustrasi, logo Pertamina. Pertamina optimistis mencetak laba pada akhir tahun ini. Meskipun, kinerja semester I anjlok.

Kinerja keuangan Pertamina anjlok sepanjang semester I 2020. Meski begitu, perusahaan optimistis kinerjanya akan lebih baik pada paruh kedua tahun ini karena kenaikkan harga minyak dunia.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan kinerja keuangan perusahaan turun drastis pada paruh pertama tahun ini karena triple shock, yaitu penurunan penjualan yang signifikan, harga minyak mentah yang turun sehingga berdampak pada pendapatan sektor hulu, serta fluktuasi nilai tukar rupiah sehingga terjadi kerugian selisih kurs.

Namun, dia yakin kinerja perusahaan akan kembali positif pada akhir 2020. "Ditargetkan laba juga akan positif pada akhir tahun, mengingat harga minyak dunia perlahan mulai naik," kata Fajriyah kepada Katadata.co.id, Senin (24/8).

Oleh karena itu, perusahaan bakal terus memperbaiki kinerja internal. Salah satu caranya dengan pengematan hingga 30%.

Perusahaan juga akan memprioritasikan rencana investasi, renegosiasi kontrak eksisting, refinancing untuk mendapatkan biaya bunga yang lebih kompetitif, serta meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). "Sehingga biaya dari sisi rupiah juga semakin banyak komposisinya, dan bisa menekan biaya secara umum," ujar dia.

Sebagaimana diketahui, Pertamina mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 767,92 juta atau sekitar Rp 11,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.800/dolar) pada semester 1 2020. Capaian tersebut berbanding terbalik dari raihan laba bersih sebesar US$ 659,96 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Mengutip laporan keuangan Pertamina semester 1 2020 Senin (24/8), rugi bersih turun karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya yaitu pendapatan yang anjlok 19,81% secara tahunan atau year on year (yoy) dari US$ 24,54 miliar pada semester I tahun lalu menjadi US$ 20,48 miliar.

Turunnya pendapatan berasal dari penurunan penjualan minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak di dalam negeri sebesar 20,9% yoy menjadi US$ 16,57 miliar dibandingkan sebelumnya sebesar US$ 20,94 miliar. Pendapatan usaha dari aktivitas operasi lainnya juga turun 13,44% yoy menjadi US$ 414,81 juta dari sebelumnya US$ 479,24 juta.

Tekanan terhadap pendapatan Pertamina juga berasal dari penurunan penggantian biaya subsidi dari pemerintah yang hanya US$ 1,74 miliar dari US$ 2,51 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan penjualan ekspor minyak mentah, gas bumi, dan produk minyak naik menjadi US$ 1,76 miliar dari sebelumnya US$ 1,61 miliar.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait