AS Pangkas Produksi, Harga Minyak Cetak Rekor Tertinggi dalam 5 Bulan

Amerika Serikat terpaksa menutup lebih banyak fasilitas produksi minyak di Teluk Meksiko karena Badai Laura. Hal itu menyebabkan harga minyak meroket ke level tertinggi sejak 5 Maret 2020.
Image title
26 Agustus 2020, 07:59
harga minyak, amerika serikat
Katadata
Ilustrasi, anjungan lepas pantai. Harga minyak naik setelah perusahaan energi Amerika Serikat menutup 84% fasilitas produksi di Teluk Meksiko karena Badai Laura yang diproyeksi menerjang wilayah tersebut pada Kamis (27/8).

Harga minyak dunia meroket ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir pada perdagangan Rabu (26/8) waktu Indonesia. Hal itu dipicu penurunan produksi minyak Amerika Serikat akibat terjangan badai di Teluk Meksiko.

Mengutip Bloomberg pada hari ini pukul 07.00 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2020 naik 1,62 persen menjadi US$ 45,86 per barel. Sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober 2020 naik 0,18% menjadi US$ 43,43 per barel.

Harga minyak hari ini mencetak rekor tertinggi sejak 5 Maret 2020, sehari sebelum Arab Saudi dan Rusia gagal menyetujui rencana memangkas produksi, dan seminggu sebelum Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi.

 

Produsen AS kembali memangkas produksi minyak mentah menjelang terjangan Badai Laura. Badai tersebut diproyeksi mendekati level Badai Katrina yang menghantam AS pada 2005. 

Menurut Pusat Badai Nasional AS, Badai Laura diperkirakan akan menguat menjadi badai besar dengan angin 115 mil per jam (185 kilometer per jam) sebelum menghantam pantai dekat perbatasan Texas-Louisiana pada Kamis (27/8) pagi. Dengan adanya Badai tersebut, para produsen minyak AS menghentikan sebagian besar operasional kilang di sepanjang pantai Texas / Louisiana. 

Produsen miyak AS juga telah mengevakuasi pekerja dari 310 fasilitas produksi lepas pantai dan menutup 1,56 juta barel per hari (bpd) produksi minyak mentah atau 84% dari seluruh produksi di Teluk Meksiko. Jumlah tersebut mendekati penutupan 90% fasilitas produksi akibat Badai Katrina pada 15 tahun lalu.

"Penguatan hari ini sekali lagi hampir seluruhnya disebabkan oleh kekhawatiran badai," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois seperti dilansir dari Reuters pada Rabu (26/8).

Dia pun menproyeksi sentimen negatif dari badai Teluk Meksiko bakal membayangi laporan penyimpanan mingguan dari Energy Information Administration (EIA). “Secara keseluruhan, badai membatasi pasokan minggu ini, tetapi pasar akan segera kembali fokus pada badai terbesar dari semuanya, yakni Covid-19,” kata Bjornar Tonhaugen, kepala pasar minyak di Rystad Energy.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait