Jelang 1 Tahun Jokowi-Ma'ruf, Sudah Sejahterakah Rakyat Indonesia?

Sebanyak 55 persen masyarakat Indonesia menganggap kondisi ekonomi buruk sejak Mei 2020 atau saat pandemi corona melanda Tanah Air.
Merdeka.com
Oleh Merdeka.com
19 Oktober 2020, 12:03
jokowi, ma'ruf amin, ekonomi, pandemi corona, pandemi, covid-19, virus corona, jakarta, pemerintah
ANTARAFOTO | Yulius Satria
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Ekonomi Indonesia dianggap buruk jelang satu tahun pemerintahan Kabinet Jokowi-Maruf. Hal itu karena pandemi Covid-19 yang melanda Tanah Air sejak Maret 2020.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin genap satu tahun pada 20 Oktober 2020. Banyak hal yang terjadi dalam pemerintah periode kedua Jokowi dan juga diterpa pandemi Covid-19 yang berpengaruh besar dengan ekonomi Tanah Air. Hasil survei terbaru pun keluar jelang satu tahun tersebut.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyebut sebanyak 55 persen masyarakat menilai bahwa kondisi ekonomi tanah air saat ini buruk. Buruknya kondisi ekonomi Indonesia sudah mulai terjadi pada Mei 2020 atau saat virus Covid-19 mewabah.

Hal ini disampaikan Burhanuddin dalam konferensi pers Rilis Survei Nasional tentang Mitigasi Dampak Covid-19. Survei digelar pada 24-30 September 2020.

Sebagai informasi, survei menggunakan kontak telepon kepada responden karena situasi pandemi corona. Survei menggunakan asumsi simple random sampling, dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.

Jumlah sampel yang dipilih secara acak untuk ditelepon sebanyak 5.614 data. Sedangkan, yang berhasil diwawancarai dalam durasi survei yaitu sebanyak 1200 responden dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional. Margin of Error pada survei ini +2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Artikel ini terbit pertama kali di:
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait