Relawan Vaksin Corona Meninggal, AstraZeneca Tetap Teruskan Pengujian

Seorang relawan uji klinis vaksin virus corona di Brazil berusia 28 tahun meninggal dengan komplikasi Covid-19.
Image title
Oleh Febrina Ratna Iskana
22 Oktober 2020, 08:46
vaksin virus corona, covid-19, virus corona, pandemi corona, pandemi, gerakan 3M
123RF.com/Lightfieldstudios
Beberapa negara melakukan penelitian untuk mengembangkan vaksin antivirus corona (Covid-19). Salah satunya AstraZeneca di beberapa negara seperti Inggris, Brazil, dan Amerika Serikat (AS).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Otoritas Kesehatan Brazil, Anvisa, menyatakan satu relawan uji klinis vaksin virus corona meninggal. Meski begitu, AstraZeneca dan Oxford Univeristy, tetap melanjutkan uji coba di negara tersebut.

Oxford mengonfirmasi rencana untuk tetap melaksanakan uji klinis setelah melaksanakan penilaian yang cermat. "Tidak ada kekhawatiran tentang keamanan uji klinis," ujar pernyataan tertulis Oxford seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (22/10).

Sedangkan AstraZeneca menolak berkomentar. Universitas Federal Sao Paulo, yang membantu mengoordinsasi uji klinis fase ketiga di Brazil, menyatakan komite peninjau independen juga merekomendasikan uji coba dilanjutkan. Universitas sebelumnya mengonformasi bahwa relawan yang meninggal merupakan warga negara Brazil.

"Semuanya berjalan seperti yang diharapkan, tanpa catatan komplikasi serius terkait vaksin yang melibatkan sukarelawan yang berpartisipasi," seperti pernyataan tertulis dari universitas tersebut.

Sejauh ini 8 ribu dari 10 ribu relawan yang direkrut untuk uji coba telah diberikan dosis pertama vaksin virus corona. Mayoritas dari mereka juga telah menerima suntikan kedua.

Berdasarkan laporan CNN, relawan yang meninggal berusia 28 tahun yang tinggal di Rio de Janeiro. Dia didiagnosa meninggal karena komplikasi Covid-19. Meski begitu, Anvisa tidak memberikan penjelasan secara detail karena data relawan bersifat rahasia.

Di sisi lain, Indonesia merupakan salah satu negara yang akan mendapatkan vaksin dari Astrazeneca. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 dr Reisa Brotoasmoro menyebut ada tiga jalur pengadaan vaksin di Indonesia.

Pertama, pemerintah menggandeng lembaga internasional yaitu CEPI dan Gavi Alliance untuk mendapat akses vaksin dalam kerangka kerjasama multilateral. Skema itu melibatkan WHO dan Unicef dari tahap pengembangan, distribusi dan pelaksaanaan vaksinasi.

Kedua, pengembangan vaksin Covid-19 Merah Putih yang merupakan kerja sama PT Bio Farma dengan Sinovac asal Tiongkok. Ketiga, pasokan vaksin dari komitmen empat perusahaan yaitu Astrazeneka, Simovac, Cansino dan Sinopharm.

"Setelah vaksin-vaksin itu disetujui WHO, maka vaksin itu akan diproduksi dan tiba di Indonesia secara bertahap," ujar Reisa beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Reisa mangatakan vaksinasi merupakan upaya pemberian kekebalan tubuh untuk melawan virus yang sudah dikenali. Vaksinasi sudah terbukti ampuh untuk mengendalikan wabah, bahkan memberantas dan menghilangkan wabah dan penyakit di dunia seperti cacar dan polio.

Meski begitu, vaksin hanya menjadi pelengkap dan digunakan berdasarkan skala prioritas. Oleh karena itu, protokol kesehatan tetap penting untuk dilaksanakan demi menekan penularan Covid-19. "Kita tidak boleh lengah dan menurunkan disiplin 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan,"kata Reisa.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait