Hasil Uji Klinis: Plasma Darah Tak Ampuh Sembuhkan Pasien Covid-19

Peneliti di India menemukan perawatan plasma darah tak ampuh menyembuhkan pasien Covid-19 yang sudah parah.
Image title
Oleh Febrina Ratna Iskana
23 Oktober 2020, 19:48
obat virus corona, covid-19, virus corona, pandemi corona, pandemi, gerakan 3m
ANTARA/Shutterstock/am
Ilustrasi, sampel darah yang terindikasi positif virus corona. Penelitian di India menunjukkan pengobatan plasma darah tidak berdampak signifikan pada kesembuhan pasien Covid-19.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Hasil uji klinis di India menunjukkan bahwa penggunaan darah pasien Covid-19 yang sudah sembuh tak signifikan melawan infeksi virus. Padahal, Amerika Serikat dan India telah mengesahkan metode tersebut untuk penggunaan darurat.

Penelitian yang diterbitkan dalam BMJ British Medical Journal pada Jumat (23/10) menunjukkan bahwa plasma penyembuhan yang memberikan antibodi dari penyintas Covid-19, kepada orang yang terinfeksi, gagal mengurangi tingkat kematian. Bahkan metode itu tidak menghentikan perkembangan penyakit yang sudah parah.

Studi terhadap lebih dari 400 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit itu merupakan kemunduran terhadap penanganan pasien Covid-19. Padahal, Presiden AS Donald Trump pada Agustus 2020 menyebutnya sebagai "terobosan bersejarah".

Selain Amerika Serikat dan India, negara-negara lain termasuk Inggris sedang mengumpulkan plasma sumbangan sehingga dapat diluncurkan secara luas jika terbukti efektif. Simon Clarke, ahli mikrobiologi seluler di Universitas Reading mengatakan percobaan tersebut menunjukkan efek kecil terhadap kesembuhan pasien.

"Tetapi ini tidak cukup untuk meningkatkan pemulihan mereka dari penyakit. Secara sederhana, tidak ada manfaat klinis bagi pasien,"kata Clarke seperti dilansir dari Reuters pada Jumat (23/10).

Penelitian plasma darah tersebut melibatkan 464 orang dewasa dengan Covid-19 yang dirawat di rumah sakit di seluruh India antara April dan Juli 2020. Mereka secara acak dibagi menjadi dua kelompok.

Satu kelompok menerima dua transfusi plasma penyembuhan yang diberikan dalam waktu 24 jam, di samping perawatan standar Covid-19. Sedangkan kelompok lainnya hanya mendapakan perawatan standar. 

Setelah tujuh hari, pasien yang mendapatkan plasma darah menunjukkan pemulihan dari beberapa gejala, seperti sesak napas dan kelelahan. Hal itu menunjukkan bahwa virus sedang dinetralkan oleh antibodi.

Namun, metode pengobtan itu ternyata tak mengurangi kematian atau perkembangan penyakit menjadi lebih parah dalam 28 hari.“Kinerja plasma yang buruk dalam percobaan ini mengecewakan tetapi tidak sepenuhnya mengejutkan,” kata Ian Jones, seorang profesor virologi, juga di Universitas Reading.

Jones mengatakan plasma lebih mungkin bekerja jika diberikan dengan sangat cepat setelah seseorang terjangkit Covid-19. Dia pun mendesak peneliti melanjutkan uji coba plasma darah sebagai pengobatan potensial terhadap pasien yang baru didiagnosis.

“Kami masih belum memiliki pengobatan yang cukup untuk tahap awal penyakit, metode itu bisa mencegah penyakit parah dan hingga kini masih menjadi pilihan. Namun, menghindari tertular virus corona tetap menjadi pesan utama,” kata Jones.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait