WHO Janjikan RI Dapat Pasokan Vaksin Corona 23% dari Populasi

Pemerintah akan mengedepankan aspek keselamatan dan efikasi dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19.
Image title
24 Oktober 2020, 19:25
covid-19, virus corona, pandemi corona, pandemi, jakarta, gerakan 3M
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww.
Ilustrasi, vaksin. Ketua Satgas PEN Budi Gunadi Sadikin menyebut pemerintah dijanjikan WHO mendapatkan pasokan vaksin sebanyak 23% dari jumlah penduduk Indonesia.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pemerintah telah menempuh dua jalur untuk mendapatkan vaksin virus corona yang cukup bagi masyarakat. Salah satunya melalui jalur multilateral yang dikordinasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

WHO bersama CEPI dan GAVI membentuk inisiasi multilateral bernama COVAX untuk memasok vaksin secara merata dan adil ke seluruh dunia. Ketua Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia dijanjikan WHO mendapatkan pasokan vaksin sebesar 23% dari populasi penduduk Indonesia.

Pada tahap pertama, WHO akan memberikan vaksin untuk tenaga medis yang secara rata-rata jumlahnya mencapai 3% penduduk. Selanjutnya diberikan pasokan vaksin untuk 20% penduduk yang dianggap mewakili jumlah rata-rata populasi penderita penyakit kritis (critical illness population).

Budi pun berharap vaksin tersebut bisa dibeli dari WHO dengan harga yang murah. Pasalnya, dalam kerja sama multilateral itu, seluruh negara akan patungan untuk membayar vaksin. WHO menetapkan negara maju membayar paling tinggi untuk membantu negara miskin mendapatkan vaksin gratis.

"Sedangkan Indonesia ada di tengah-tengah (negara maju dan negara miskin), harapannya bisa mendapatkan diskon, tapi sampai saat ini harganya belum ada," ujar Budi dalam acara Kompas Talk "Strategi Indonesia Keluar dari Pandemi" pada Sabtu (24/10)

Selain dari WHO, pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan vaksin virus corona dengan kerja sama bilateral dengan perusahaan vaksin. Budi menyebut ada tujuh perusahaan yang sudah didekati untuk mendapatkan vaksin, seperti Astrazeneca, Sinovac, Sinoparm, Cansino, dan perusahaan lainnya.

Meski begitu, Budi menyebut, vaksin yang digunakan di Indonesia hanya yang sudah memenuhi efikasi dan keamanan. Untuk memastikan hal tersebut, pihaknya melibatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan organisasi kesehatan lainnya.

"Kami prinsipnya standar safety dan efikasi terpenuhi. Ini tugasnya Menteri Kesehatan, BPOM, dan ITAGI. Jika sudah lolos, akan sebanyak-banyaknya kami dapatkan untuk rakyat Indonesia," ujarnya.

Selain mempersiapkan vaksinasi, pemerintah berupaya menjalankan tiga rekomendasi WHO dalam menangani pandemi corona. Salah satunya yaitu meningkatkan diagnostik.

Menurut Budi, pemerintah terus mengejar jumlah tes polymerase chain reaction (PCR) untuk mendiagnosa pasien Covid-19. Pemerintah juga berupaya membuat reagen di dalam negeri agar jumlah tes bisa lebih cepat.

Langkah lainnya yaitu upaya perawatan. Menurut Budi, pemerintah telah menempuh berbagai cara agar pasien Covid-19 mendapatkan perawatan terbaik.

Salah satunya dengan mencari obat-obatan yang pas untuk mempercepat kesembuhan pasien. Budi bahkan berkisah dirinya mencari berbagai jenis obat ke luar negeri yang sesuai untuk pasien Covid-19.

Seluruh upaya tersebut dibantu oleh banyak orang dan usaha diplomatik yang tak mudah. "Saya ditolong banyak orang, karena faktor perawatan ini sangat penting," katanya.

Upaya terakhir yaitu sistem kesehatan. Budi mengatakan WHO menekankan pentingnya upaya tracking dan tracing dalam penanganan Covid-19. Kementerian BUMN bersama Telkom pun telah membangun sistem pelacakan bernama pedulilindung.

"Namun ternyatan enforcement-nya susah," katanya.

Di sisi lain, pemerintah bekerja sama dengan berbagai universitas untuk menciptakan alat tes. Hasilnya, ada alat tes buatan Universitas Gadjah Mada bernama Genose yang bisa digunakan untuk tes Covid-19.

"Alat itu bisa mendeteksi melalui hembusan nafas. Saya minta Bio Farma membantu," ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Letjen Doni Monardo mengatakan vaksin terbaik bagi masyarakat saat ini yaitu menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Protokol kesehatan tersebut bisa ditambah dengan meningkatkan imunitas.

Caranya dengan berolahraga secara teratur, beristirahat cukup 6-8 jam sehari, makan-makanan sehat, dan minum vitamin. "Hal lainnya yang penting yaitu tidak boleh panik. Hati harus gembira," ujar Doni dalam konferensi pers secara daring pada Kamis (22/10).

 

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait