Kasus Covid-19 Tambah 2.853, Kurva Pandemi di RI Diprediksi Masih Naik

Selama jumlah tes rendah, kasus Covid-19 diproyeksi terus meningkat. Penyebabnya, pemerintah tak berhasil memotong rantai penularan virus corona.
Image title
9 November 2020, 18:46
covid-19, virus corona, pandemi corona, pandemi, jakarta, gerakan 3m
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/hp.
Warga menjalani "swab test" di GSI Lab (Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium), Cilandak, Jakarta, Sabtu (3/10/2020). Pemerintah dinilai belum mampu mengendalikan pandemi karena jumlah tes yang rendah.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kasus Covid-19 pada Senin (9/11) bertambah 2.853 orang. Jumlah tersebut turun dari hari sebelumnya sebesar 3.880 kasus.

Bahkan penambahan kasus hari ini merupakan yang terendah dalam sepekan terakhir. Pada 3 November 2020, tambahan kasus positif virus corona mencapai 2.973.

Meski begitu, Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan jumlah kasus Covid-19 belum memasuki kurva turun. Justru angka positif virus corona bakal makin meningkat.

Salah satu faktornya yaitu libur panjang pekan lalu. Menurut Pandu, dampak libur tersebut sudah mulai terasa pada pekan ini. Dia pun memproyeksi lonjakan kasus akan terjadi pada pekan depan.

Advertisement

Selain itu, jumlah tes yang masih rendah juga menyebabkan penularan virus corona semakin masif. Pasalnya, pemerintah gagal mendeteksi orang-orang yang telah terinfeksi Covid-19.

"Paling penting itu testing, untuk mengidentifikasi orang-orang yang menularkan virus," ujar Pandu kepada Katadata.co.id pada Senin (9/11).

Menurut dia, Covid-19 yang merupakan penyakit menular hanya bisa dikendalikan jika jumlah tes cukup banyak. Oleh karena itu, dia terus mendorong pemerintah meningkatkan jumlah tes.

Dia juga mengkritik upaya pemerintah yang menangani pandemi dengan pendekatan ekonomi. Sehingga fokus pemerintah justru bukan pada aspek yang penting seperti tes dan pelacakan, namun kepada penyediaan vaksin.

"Pendekatannya bukan untuk mengatasi pandemi, sehingga tes tidak dipikirkan, padahal itu penting untuk memotong rantai penularan," ujar Pandu.

Jumlah tes Covid-19 di Indonesia memang masih rendah. Per 9 November 2002, angka orang yang dites mencapai 24.747, lebih tinggi dari hari sebelumnya sebesar 20.941. Namun, jumlah spesimen yang dites berkurang dari 35.588 menjadi 34.365.

Sedangkan dalam sepekan terakhir, rata-rata jumlah spesimen yang diperiksa mencapai 36.683. Untuk jumlah orang yang dites sebesar 26.558. Angka tersebut jauh lebih rendah dari standar WHO sebesar 40 ribu per hari.

Selain itu, jumlah tes juga belum memenuhi angka suspek. Per 9 November 2020, jumlah suspek sebesar 57.925.

Jumlah suspek menjadi hal yang penting karena angka tersebut menunjukkan hasil pelacakan. Angka tersebut juga menentukan jumlah orang yang harus dites.

Di sisi lain, Indonesia mencatat positivity rate per hari ini sebesar 14,19%. Angka tersebut merupakan pembagian dari total kasus positif sebesar 440.569 dengan total orang yang diperiksa sekitar 3,10 juta.

Angka positivity rate di Tanah Air juga sangat tinggi dibandingkan target WHO sebesar 5%. Itu menunjukkan pengendalian infeksi di Indonesia masih cukup rendah.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait