WHO: Vaksin Saja Tidak Bisa Hentikan Pandemi Covid-19

Program vaksinasi harus dibarengi dengan 3T dan 3M agar seluruh negara bisa keluar dari pandemi corona.
Image title
Oleh Febrina Ratna Iskana
17 November 2020, 13:11
who, vaksin virus corona, pandemi corona, pandemi, virus corona, covid-19, gerakan 3M, internasional
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww.
Ilustrasi, vaksin. WHO meminta masyarakat tetap melaksanakan protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19 meskipun sudah ada vaksin virus corona.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut pandemi tak akan berakhir hanya dengan vaksin virus corona. Pernyataan itu dibuat setelah beberapa perusahaan mengklaim vaksin yang dikembangkan efektif mencegah penyebaran virus corona

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan vaksin memang penting untuk mengendalikan pandemi. Namun, vaksin bukan satu-satunya alat mencegah penularan Covid-19.

Program vaksinasi justru harus diikuti oleh disiplin protokol kesehatan yang ketat, seperti peningkatan tes, isolasi, dan perawatan bagi  yang positif Covid-19.

Selain itu, upaya pelacakan dan karantina yang berkontak erat harus terus berjalan. Terakhir, pemerintah harus melibatkan komunitas dan mendorong setiap orang berhati-hati terhadap penularan virus.

"Vaksin tidak akan mengakhiri pandemi Covid-19," ujar Tedros dalam akun Twitter-nya pada Senin (16/11).

Terlebih lagi, pasokan vaksin bakal terbatas. Sehingga tidak semua orang akan mendapatkan vaksin virus corona.

WHO bakal memprioritaskan tenaga kesehatan, lansia, dan kelompok masyarakat yang berisiko tertular virus corona. Dengan cara tersebut, dia berharap jumlah kematian akan berkurang dan memberi waktu sistem kesehatan mengatasi orang yang sakit.


Vaksin Efektif Cegah Covid-19

Berbagai perusahaan berlomba-lomba mengembangkan vaksin virus corona. Beberapa di antaranya telah menunjukkan hasil yang positif.

Moderna Inc menyebut vaksin buatannya efektif mencegah Covid-19 hingga 94,5%. Hal itu berdasarkan temuan 95 kasus infeksi yang terjadi di antara 30.000 relawan.

Dari jumlah tersebut, hanya lima relawan yang mendapatkan dua kali suntikan vaksin mRNA-1273. Sedangkan sisanya mendapatkan suntikan plasebo.

Pfizer Inc juga mengklaim vaksin yang dikembangkannya efektif mencegah Covid-19 hingga 90%. Sedangkan Sputnik V dari Rusia menyebut vaksin yang dibuatnya efektif menangkal virus corona hingga 92%.

Meski ada hasil yang positif, vaksin Moderna dan Pfizer tidak bisa langsung beredar. Pasalnya, otoritas Amerika Serikat (AS) belum mengeluarkan izin penggunaan darurat. Jika diberikan izin, kedua perusahan diproyeksi mampu memproduksi 60 juta dosis vaksin pada tahun ini.

Kedua vaksin yang dikembangkan dengan teknologi baru bernama mRNA itu memang dapat menjadi alat penanganan pandemi. Apalagi virus corona telah menginfeksi 54 juta orang dan menewaskan 1,3 juta jiwa di seluruh dunia.

"Kita bakal memiliki vaksin yang dapat menghentikan Covid-19," ujar Presiden Moderna Stephen Hoge melalui wawancara telepon dengan Reuters pada Senin (16/11).

Meski begitu, Ahli Epidemiologi Amerika Serikat (AS) Anthony Fauci mengatakan jika pemerintah memberikan izin, vaksin tidak akan cukup untuk semua orang Amerika sebelum Thanksgiving dan libur akhir tahun. Dua perayaan tersebut biasanya menjadi kesempatan kumpul keluarga dan teman.

Oleh karena itu, dia menekankan agar masyarakat tidak lalai menjalankan protokol kesehatan. Seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Ketiga hal tersebut terbukti mencegah penularan Covid-19

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait