Jadi Tujuan Wisata, Kasus Aktif Covid-19 di Jabar Capai 10 Ribu Orang

Jateng juga mencatat kenaikkan kasus aktif Covid-19. Kasus aktif menunjukkan jumlah orang yang masih terinfeksi virus corona.
Image title
18 November 2020, 19:19
satgas covid-19, pandemi corona, pandemi, covid-19, virus corona, jawa barat, gerakan 3M
ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/foc.
Pengunjung mendaftar untuk pemeriksaan tes cepat atau rapid test yang diadakan Dinas Kesehatan Kota Bogor di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Minggu (1/11/2020). Kasus aktif Covid-19 di Jawa Barat meningkat akibat libur panjang akhir Oktober 2020.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Satgas Penanganan Covid-19 menyebut kasus aktif di Jawa Barat melonjak cukup tajam. Hal itu terjadi setelah libur panjang akhir Oktober 2020. 

Ketua Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19, dr. Dewi Nur Aisyah, nengatakan Jawa Barat memiliki kasus aktif hingga 10.477 orang. Disusul oleh Jawa Tengah sekitar 7.000 orang.

"Jawa Barat dan Jawa Tengah merupakan destinasi favorit untuk orang berlibur. Sehingga dalam satu pekan terakhir, kasus aktif di sana naik signfikan sejalan dengan angka positif yang meningkat," ujar Dewi dalam konferensi pers pada Rabu (18/11).

Sedangkan kasus aktif di DKI Jakarta justru turun dari 10.000 kasus pada 31 Oktober 2020 menjadi sekitar 6.000 pada 15 November.  Adapun sebaran kasus aktif di kabupaten/kota semakin menurun. Pada 18 Oktober, ada 12 kabupaten/kota yang memiliki kasus aktif di atas 1.000.

Sedangkan pada 15 November, hanya sembilan kabupaten/kota dengan kasus aktif 1.000."Ini progres yang harus kita lihat, jangan sampai terjadi kenaikkan kasus lagi," ujarnya.  

Untuk menurunkan jumlah kasus aktif, Dewi menyebut pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus berkoordinasi dan berkolaborasi untuk mempertahankan jumlah pemeriksaan hingga 100% target WHO atau sebanyak 267 ribu orang per pekan. Saat ini, jumlah orang yang diperiksa mencapai 86% dari target WHO. 

Selain itu, dia juga menyebut pelacakan kasus harus terus ditingkatkan. Sehingga pemerintah dapat mengetahui penyebaran Covid-19. "Pelacakan harus ditingkatkan hingga 20-30 orang dalam waktu maksimal 3 kali 24 jam. Jumlah tracer juga harus ditambah di setiap daerah," katanya. 

Terakhir, ketersediaaan dan kecukupan rumah sakit darurat harus disiapkan untuk mengantisipasi kenaikkan kasus. Selain itu, masyarakat harus tetap patuh terhadap protokol kesehatan dengan 3m< yaitu menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, serta menjaga jarak.

"Tugas kita semua untuk disiplin 3M, karena itu kunci untuk memutus rantai penularan Covid-19," ujar Dewi. 

 

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait