Satgas Sebut Peran Sentral Tokoh Agama Mengubah Perilaku saat Pandemi

Pemuka agama dapat menjadi contoh penerapan protokol kesehatan bagi masyarakat.
Image title
Oleh Febrina Ratna Iskana
24 November 2020, 19:45
covid-19, virus corona, pandemi corona, pandemi, jakarta, gerakan 3M, satgas covid-19
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/aww.
Tim velox Badan Intelijen negara (BIN) menyemprotkan cairan disinfektan di area altar kebaktian Gereja Kristen Indonesia di Serang, Banten, Rabu (28/10/2020). Satgas mendorong pemuka agama ikut mengampanyekan disiplin protokol kesehatan.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Perubahan perilaku menjadi sesuatu yang tidak asing di masa pandemi Covid-19. Masyarakat yang tadinya dapat bepergian dengan leluasa kini harus menggunakan masker dan menjaga jarak ketika keluar rumah. 

Bahkan pemerintah menyarankan masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak untuk tetap di rumah. Ketua Sub Bidang Komunikasi Publik Satgas Covid-19 Troy Pantouw menjelaskan bahwa perubahan perilaku selama masa pandemi merupakan keharusan karena perintah langsung dari Presiden Joko Widodo.

Adapun perubahan prilaku yang dimaksud yaitu mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker, dan menjaga jarak. Studi dari Ariawan, Iwan, dan Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia menunjukkan bahwa perubahan perilaku menurunkan resiko tertular Covid-19 hingga 85%. 

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas COVID-19 Sony Harry B Harmadi pun mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, untuk mematuhi protokol kesehatan. Menurut dia, peran tokoh agama menjadi penting dalam proses perubahan perilaku. Pasalnya, tokoh agama cukup dihormati dan disegani masyarakat.

“Pemuka agama disegani dan menjadi panutan masyarakat, kecuali tokoh agama yang banyak politik. Saya yakin pemuka agama jika tidak terlalu ada di dunia politik bisa mempengaruhi nilai atau norma melalui pendekatan agama,”kata Sony dalam konferensi pers virtual pada Selasa (24/11).

Ia juga berharap bahwa pemuka agama dapat menjadi role model dalam perubahan perilaku masyarakat. Dengan peran yang begitu sentral,

Sony berencana melibatkan para dai untuk menyampaikan dakwah yang berkaitan dengan protokol kesehatan dan perubahan perilaku. Hal itu untuk mengurangi ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan. 

 

Perubahan perilaku di masa pandemi ini, menurut Sony, harus bergulir lebih cepat dibandingkan ketika sosialisasi program pemerintah lainnya. Di sisi lain, Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samudro memaparkan bahwa gereja telah menyesuaikan pelaksanaan ibadah sesuai aturan dari Satgas  Penanganan covid-19.

“Indonesia terdiri 37 keuskupan, tentu saja setiap keuskupan memiliki pendekatan yang berbeda-beda. Namun prinsipnya tetap sama, bahwa apa yang ditegaskan Satgas Penanganan Covid-19 menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aturan protokol kesehatan di gereja Katolik," ujar Yohanes.

Selain perubahan prilaku, Sony juga menyoroti masalah stigma negatif yang melekat pada penyintas Covid-19. Oleh karena itu, dia meminta tokoh agama dapat berperan untuk menghilangkan stigma tersebut.

Staff Tim Pakar dan Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan COVID-19 dr. Tjung Budi Santoso juga menegaskan bahwa musuh kita bersama bukanlah pasien Covid-19, melainkan virus corona.

“Meski virusnya berbahaya, tapi ini bukan cara yang baik untuk memberi stigma ke orang yang terkena, karena mereka perlu bantuan,” ujar Budi. 

Penerapan Protokol Kesehatan Saat Ibadah

Lebih lanjut, Budi menyampaikan satu slogan buatan Juru Bicara Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito, yakni berkumpul beribadah merupakan jantung tradisi kehidupan beragama. Oleh karena itu, kehidupan beragama merupakan sektor yang tidak bisa ditinggalkan.

Meski begitu, pelaksanaan ibadah harus mengikuti protokol kesehatan. Adapun pemerintah menetapkan 18 aturan protokol kesehatan yang harus dipatuhi pengelola tempat ibadah, yaitu penyaringan jemaat sesuai usia dan kesehatannya, daya tampung jemaat yang hanya mencapai 50% kapasitas, memperbanyak frekuensi jam ibadah, dan empersingkat durasi ibadah.

Selain itu, menjaga jarak antarumat (depan-kiri-kanan-belakang) minimal 1 meter, memastikan sirkulasi udara yang baik di dalam ruangan, beralih ke media digital (paperless), menyediakan fasilitas cuci tangan, dan menyediakan masker kain serta mengimbau umat untuk menggunakan masker.

Kemudian, disinfeksi rutin ruang ibadah, mengukur suhu tubuh umat, menjaga jarak minimal satu meter saat antre, menentukan pintu keluar dan masuk yang berbeda, memastikan kebersihan makanan dan minuman yang akan diberikan.

Lalu, mengimbau umat untuk pulang usai beribadah atau tidak berkumpul setelah ibadah, petugas penyelenggara ibadah harus dalam kondisi sehat, membuat surat pernyataan kepatuhan protokol kesehatan, dan tetap menyediakan fasilitas ibadah jarak jauh.

Sedangkan umat yang akan mengikuti ibadah harus memastikan kesehatan diri dan sanak saudara, memastikan rajin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, menggunakan masker kain, dan memastikan rumah ibadah yang dituju menerapkan protokol kesehatan.

Selanjutnya, jemaat tidak beraktivitas dengan kontak fisik, menjaga jarak antarumat (depan-kiri-kanan-belakang) minimal 1 meter, langsung pulang dan tidak berkumpul setelah ibadah, membawa peralatan pendukung ibadah masing-masing, mempersiapkan hal-hal yang bisa dipersiapkan dari rumah (contohnya berwudhu).

(Penyumbang bahan: Ivan Jonathan Irawan)

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait