WHO akan Kembali ke Tiongkok untuk Selidiki Asal Mula Covid-19

Peneliti di Italia menemukan bahwa virus corona baru telah muncul sejak September 2019, jauh lebih cepat dari penemuan kasus Covid-19 pertama di Tiongkok pada Desember tahun lalu.
Image title
Oleh Febrina Ratna Iskana
26 November 2020, 13:19
WHO, Tiongkok, virus corona, covid-19, pandemi corona, pandemi, gerakan 3M
ANTARA FOTO/REUTERS/Aly Song/pras/cf
Foto: Aly Song. Bendera China berkibar di tempat wisata Yellow Crane Tower setelah "lockdown" diberhentikan di Wuhan, ibukota provinsi Hubei dan pusat penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di China, Jumat (10/4/2020). WHO akan kembali menyelidiki kasus awal virus corona baru yang muncul di Wuhan.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO akan kembali menyelidiki ke Kota Wuhan, Tiongkok. Lembaga tersebut akan menyelidiki asal mula munculnya Covid-19 yang disinyalir berasal dari kelelawar. 

Pakar penyakit hewan WHO Peter Ben Embarek mengatakan bahwa tim ingin mewawancara ulang orang yang terinfeksi Covid-19 pada awalnya munculnya kasus tersebut. Selain itu, WHO akan mencoba menemukan kasus lain yang tidak terdeteksi pada waktu itu dan mencoba mengkaji sejarah awal munculnya kasus Covid-19.

Hal itu mungkin menghasilkan informasi penting tentang di mana mereka mungkin tertular virus corona baru. “Namun, tidak ada yang menunjukkan bahwa itu merupakan buatan manusia,” kata Ben Embarek dilansir dari Reuters pada Kamis (26/11).

Lebih lanjut, dia mengatakan WHO tidak benar-benar tahu apa yang terjadi sebelum Desember 2019. Selain itu, tidak ada informasi bahwa virus itu dapat menular dari kelelawar ke manusia.

"Sedikit sejarah itulah yang perlu kita rekonstruksi. Belum terlambat untuk melakukan penyelidikan, "kata Ben Embarek.

Pakar WHO Mike Ryan menyatakan bahwa Tiongkok akan segera mungkin mengatur kunjungan lapangan internasional untuk menyelidiki asal-usul virus corona baru. Selain itu, peneliti Tiongkok tengah melaksanakan studi epidemiologi pada kasus dan kondisi awal di pasar Wuhan, dan tim internasional yang terdiri dari 10 ahli akan melaksanakan studi fase 2.

Investigasi akan melihat segala sesuatu yang masuk dan keluar dari pasar itu pada waktu itu dan mencoba mencari tahu dari mana hewan dan produk makanan itu berasal. Mereka juga akan mencari kesamaan di antara para pekerja pasar yang sakit parah pada Desember 2019, dan kemungkinan mereka terinfeksi di pedesaan atau lingkungan pertanian di Tiongkok selatan atau bahkan mungkin di luar negara itu.

Para peneliti di National Cancer Institute Kota Milan menemukan bahwa virus corona kemungkinan telah beredar di Italia sejak September 2019. Hal itu menandakan bahwa Covid-19 telah menyebar ke luar Tiongkok lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

WHO mengatakan virus corona penyebab Covid-19 dilaporkan pertama kali di Wuhan, Tiongkok, pada Desember 2020. Sedangkan pasien Covid-19 pertama di Italia baru terdeteksi pada 21 Februari 2020 di kota kecil dekat Milan.

Namun, penelitian terhadap relawan sehat yang masuk daftar uji coba pemantauan kanker paru antara September 2019 dan Maret 2020 menemukan adanya antibodi virus corona. Peneliti menyebut 11,6% dari 959 relawan mengembangkan antibodi tersebut sebelum Februari 2020.

Tes antibodi SARS-CoV-2 secara spesifik dilanjutkan oleh Universitas Siena. Penulis studi Giovanni Apolone mengatakan kepada Reuters bahwa ditemukan empat kasus dengan antibodi yang mampu menetralkan virus sejak minggu pertama Oktober 2019. “Orang tanpa gejala tidak hanya menjadi positif setelah tes serologis tetapi juga memiliki antibodi yang mampu membunuh virus,” kata Apolone dikutip dari Reuters pada pekan lalu.

Meksi begitu, penelitian itu juga menunjukkan bawah kasus infeksi Covid-19 bisa beredar dalam waktu lama di masyarakat. Selain itu, tingkat kematian yang rendah bukan berarti virus telah menghilang, namun virus terus berkembang hingga menyebabkan lonjakan kasus baru Covid-19.

Sebelumnya, peneliti di Italia telah melaporkan bahwa kasus pneumonia dan flu parah lebih banyak dari biasanya di Lombardy pada kuartal terakhir 2019. Italia pun menjadi negara pertama di Eropa yang melaporkan pasien Covid-19 pada Februari 2020. Hingga Senin (23/11), Italia berada di urutan kelima kasus Covid-19 terbesar di Benua Eropa dengan 1,4 juta dan angka kematian mendekati 50.000.

Di sisi lain, penularan virus corona sebenarnya dapat dicegah dengan gerakan 3M. Protokol kesehatan itu terdiri dari menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan jika masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan, kasus Covid-19 akan kembali meningkat.

"Masyarakat tetap harus berpedoman pada 3M serta ketentuan lainnya yang bertujuan memutus mata rantai penularan," ujar Wiku pekan lalu.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait