Pasokan Jadi Alasan Utama RI Memilih Vaksin Covid-19 dari Sinovac

Semua negara berlomba-lomba mengamankan pasokan vaksin Covid-19. Indonesia bahkan mau menerima vaksin yang belum terbukti efektif dari Sinovac.
Image title
15 Desember 2020, 13:07
vaksin virus corona, covid-19, pandemi corona, pandemi, jakarta, gerakan 3M, tiongkok, sinovac
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.
Petugas mengecek kontainer berisi vaksin COVID-19 saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/12/2020). Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi Sinovac, China, tiba di tanah air untuk selanjutnya akan diproses lebih lanjut ke Bio Farma selaku BUMN produsen vaksin.

Pemerintah telah mendatangkan 1,2 juta vaksin virus corona dari Sinovac. Namun, langkah pemerintah itu dinilai terburu-buru karena vaksin dari Tiongkok tersebut belum terbukti efektif mencegah Covid-19. 

Meski begitu, Juru Bicara Pemerintah untuk vaksin Covid-19 dr.Siti Nadia Tarmidzi mengatakan pemerintah ingin mengamankan pasokan vaksin terlebih dahulu. Meskipun, vaksin tersebut belum teruji kemanjurannya.

Pasalnya, pasokan vaksin masih sangat terbatas. Sedangkan kebutuhan global cukup tinggi.

Di sisi lain, Sinovac menyanggupi untuk menyuplai vaksin ke Tanah Air pada awal Desember 2020. "Kita tidak mau ketika butuh vaksin, barangnya justru tidak ada. Karena akan terjadi high demand  sedangkan suplainya terbatas," ujar Siti ke Katadata.co.id pada Senin (14/12).

Advertisement

Lebih lanjut Siti mengatakan bahwa proses pembelian produk vaksin dari Sinovac tidaklah mudah. Pemerintah Indonesia yang telah memesan 3 juta dosis pun hanya mendapatkan 1,2 juta dosis. Sedangkan 1,8 juta sisanya belum dapat dipastikan kapan tiba di Indonesia.

Terkait dengan efektivitas vaksin, Siti mengakui bahwa belum ada hasil uji klinis yang bisa memastikan kemanjuran vaksin Sinovac. Meski begitu, dia mengatakan produk Sinovac sudah cukup layak untuk digunakan. 

Pasalnya, vaksin Sinovac sudah memenuhi kriteria aman dan berrmutu karena telah melewati uji klinik fase pertama dan kedua. Adapun uji klinik fase pertama untuk melihat keamanan vaksin.

Jika lolos, akan masuk ke fase kedua yaitu penyuntikan vaksin kepada orang yang jumlahnya terbatas dan dikontrol dengan ketat. Uji klinik ini untuk melihat efikasi vaksin yang dikembangkan. 

Jika sudah terbukti aman dan memiliki efikasi, pengembangan vaksin akan memasuki fase ketiga untuk memastikan efektivitas vaksin mencegah penyakit. Dalam tahap ini, vaksin akan disuntikan kepada ribuan orang. 

Jika hasil uji klinik fase ketiga telah selesai, data yang ada harus diserahkan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memperoleh izin penggunaan. Jika izin telah keluar, pemerintah baru boleh menyuntikkan vaksin tersebut kepada masyarakat.

Selain alasan tersebut, nadia mengatakan  infrastuktur di Indonesia mendukung penggunaan vaksin Sinovac. Pasalnya Indonesia terbiasa menggunakan vaksin dengan ruang penyimpanan berkisar 2-8 derajat Celcius.

Hal itu sesuai dengan kriteria vaksin Sinovac yang tidak membutuhkan ruang penyimpanan ultra dingin. Berbeda dengan vaksin Pfizer yang membutuhkan runag penyimpanan -70 derajat celcius.

 

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait