Plus Minus Vaksin Covid-19 yang Disuntikkan ke Jokowi

Vaksin virus corona yang disuntikkan ke Jokowi memiliki efikasi lebih rendah daripada vaksin buatan Pfizer, Moderna, atau AstraZeneca.
Image title
Oleh Febrina Ratna Iskana
13 Januari 2021, 16:19
vaksin virus corona, jokowi, virus corona, covid-19, pandemi corona, pandemi, jakarta, gerakan 3M
Katadata
Presiden Indonesia Joko Widodo melakukan vaksinasi Covid-19 di Istana Negara, Rabu (13/1/2021). Jokowi menggunakan vaksin virus corona buatan Sinovac BioTech.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjadi orang pertama penerima vaksin virus corona di Indonesia. Dia mendapatkan vaksin Covid-19 yang dikembangkan perusahaan Tiongkok, Sinovac Biotech. 

Menurut Manajer Proyek Senior Bio Farma Neni Nurainy vaksin virus corona buatan Sinovac memiliki efikasi sebsar 65,3% berdasarkan data sementara uji klinik di Bandung.  Angka tersebut lebih rendah dari efikasi vaksin Moderna atau Pfizer yang mencapai lebih dari 90%.

Meski begitu, dia menyebut vaksin Sinovac memiliki sejumlah kelebihan. Salah satunya dikembangkan dengan metode inactivated virus.

Metode tersebut sudah digunakan secara luas dalam pembuatan vaksin selama puluhan tahun.  Sehingga sudah teruji aman dalam pembuatan vaksin.

Masyarakat secara global pun sudah terbiasa menggunakan vaksin yang dibuat dengan metode inactivated virus. Beberapa vaksin yang dibuat dengan metode tersebut di antaranya vaksin flu dan polio

Neni pun menyebut material vaksin Covid-19 buatan Sinovac lebih sederhana karena menggunakan metode tersebut. Dia menyebut vaksin yang dikembangkan di Tiongkok itu hanya berisi alumunium, buffer, dan vaksin yang tidak aktif.

"Tidak ada pengawet dan kandungan materi lainnya," kata Neni dalam acara  Diskusi ALMI Scientist Series O1 yang dilaksanakan secara virtual pada Rabu (13/1).

Meski begitu, pengembangan vaksin menggunakan virus yang tidak aktif membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal itu menjadi salah satu kekurangan vaksin Sinovac. 

Terlebih lagi jika dibandingkan dengan perusahaan farmasi lain yang mengembangkan vaksin virus corona dengan teknologi terkini. Seperti AstaZeneca dengan viral vector dan Pfizer serta Moderna dengan teknologi messenger RNA.

Neni menyebut teknologi terbaru dapat membuat vaksin dengan cepat hanya dengan sequence DNA. Sehingga perusahaan-perusahaan tersebut mampu menyusul Tiongkok dalam pengembangan vaksin Covid-19.

Meski begitu, Neni menyebut teknologi terkini memiliki kelemahan, terutama dari keamanan vaksin. "Teknologi vaksin tersebut belum pernah digunakan sehingga keamananya dalam jangka panjang masih perlu pemantau, terutama setelah digunakan oleh masyarakat," ujar dia.

Di sisi lain, efek samping yang timbul dari penggunaan vaksin tersebut cukup berat. Dia mengatakan Center of Disease Control (CDC) di Amerika Serikat mengeluarkan indikasi baru terkait masalah alergi terhadap vaksin dengan teknologi baru.

Sedangkan Sinovac, kata Neni, hanya menimbulkan efek samping ringan. Selain itu, distribusi vaksin Sinovac lebih mudah karena hanya memerlukan tempat penyimpanan dengan suhu 2-8 derajat Celcius.

Sedangkan Pfizer memerlukan ruang penyimpanan 70 derajat Celcius dan Moderna harus disimpan di suhu 20 derajat Celcius. "Indonesia merupakan negara tropis dan memiliki keterbatan, sehingga cold chain untuk Pfizer dan Moderna akan lebih berat," kata Neni. 

Sejauh ini, pemerintah telah memesan vaksin Novavax sebanyak 50 juta vaksin, vaksin dari Covax/GAVI 54 juta, Astrazeneca 50 juta, dan Pfizer 50 juta. Rencananya pemerintah akan memberikan vaksin virus corona dalam dua periode.

Periode pertama berlangsung selama Januari-April 2021 yang diberikan kepada 1,3 juta tenaga kesehatan, 7,4 juta petugas publik, dan 21,5 juta orang lansia. Selanjutnya, periode kedua pada April 2021-Maret 2022 untuk 63,9 juta masyarakat di daerah dengan tingkat penularan tinggi dan kelompok masyarakat lainnya sebanyak 77,4 juta.

Meski program vaksinasi segera berjalan, Satgas Penanganan Covid-19 mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Protokol kesehatan dan vaksinasi dapat memberikan perlindungan ganda terhadap penularan virus corona.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait