Kematian Anak Akibat Covid-19 di RI Lebih Tinggi Daripada AS dan India

Banyaknya klaster keluarga menyebabkan jumlah pasien anak Covid-19 semakin banyak dan potensi kematian semakin meningkat.
Image title
Oleh Febrina Ratna Iskana
15 Januari 2021, 19:39
covid-19, virus corona, pandemi, pandemi jakarta, gerakan 3M, anak-anak
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Ilustrasi, petugas membawa peti berisi jenazah yang meninggal dunia karena COVID-19 untuk dimakamkan di TPU Srengseng Sawah, Jakarta, Jumat (15/1/2021). Jumlah kematian anak-anak akibat Covid-19 di Indonesia melebihi Amerika Serikat dan India.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kematian anak-anak akibat Covid-19 mencapai 21.237 orang pada 1 Desember 2020.

Dari jumlah tersebut, 0,9% merupakan anak berusia 0-5 tahun dan 1,7% anak-anak berusia 6-18 tahun. Persentase tersebut lebih tinggi dari Amerika Serikat dan India yang merupakan dua negara dengan total kasus Covid-19 tertinggi di dunia.

Di Amerika Serikat, hanya 0,21% dari seluruh kasus kematian akibat corona merupakan anak-anak. Sedangkan India hanya mencatat 1% kasus kematian akibat corona merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun.

Menurut Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono, data bahkan relatif lebih rendah dari pada kondisi di lapangan. Sebab, data tersebut berdasarkan tes yang ada. Padahal, masih ada masyarakat yang belum memeriksakan dirinya ke pusat kesehatan.

Adapun tingginya kasus kematian pada anak-anak disebabkan tingkat penularan Covid-19 yang cukup tinggi. Terutama dalam klaster keluarga yang menjadi penyebab utama infeksi virus corona pada anak-anak.

Meski begitu, Pandu menyebut pemerintah belum memebrikan perhatian khusus pada klaster keluarga dan kasus Covid-19 pada anak-anak. Penularan virus corona antar anggota keluarga dianggap tidak penting dibandingkan penyebaran yang terjadi secara masif (super spreeder) seperti di pasar atau sekolah.

"Padahal yang paling banyak itu micro spreeder, penularan lingkungan kecil tapi kalau jumlahnya banyak akan melebihi super spreeder,” ujar Pandu dalam Katadata Virtual Series bertajuk "Mencegah Penularan Covid-19 Kepada Anak-anak", Jumat (15/1).

Padahal berdasarkan riset, kata Pandu, virus corona lebih mudah bermutasi dan menular pada anak-anak. Oleh karena itu, dia mengingatkan agar pemerintah dan masyarakat tidak boleh abai dan lalai dalam menerapkanprotokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak. 

"Hal itu tetap penting meski program vaksinasi sudah dimulai," ujarnya.

Pasalnya, anak-anak tidak hanya bisa terinfeksi tetapi juga menyebarkan virus corona. Hal itu kadang tidak disadari bahkan tenaga kesehatan. Sebab, anak-anak kerap tak mendapatkan tes Covid-19, biarpun berpotensi menjadi pembawa virus corona.

Di sisi lain, orang tua juga tidak menyadari pentingnya melaksankaan tes Covid-19 pada anak-anak. Sebab, penyebaran virus corona tak hanya menjangkiti orang dewasa. “Padahal anaknya mungkin sudah terinfeksi," kata dia.

(Penyumbang bahan: Ivan Jonathan)

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait