Limbah Medis Naik Dua Kali Lipat karena Covid-19

Satgas pemerintah berharap seluruh pihak dapat mengelola sampah medis dengan benar untuk menekan penularan virus corona.
Dwi Hadya Jayani
19 Februari 2021, 20:49
satgas covid-19, jakarta, virus corona, covid-19, pandemi corona, pandemi, gerakan 3m
Muhamad Ibnu Chazar|ANTARAFOTO
Petugas mengoperasikan salah satu bagian mesin incinerator saat pembakaran limbah medis infeksius di PT Jasa Medivest, Plant Dawuan, Karawang, Jawa Barat. Limbah medis meningkat dua kali lipat pada pasien Covid-19.

Masker hingga alat pelindung diri (APD) harus digunakan untuk menghindari penularan Covid-19. Hal itu menyebabkan limbah medis semakin meningkat kala pandemi

Sub Bidang Penanganan Limbah Medis Satgas Covid-19 Dr Lia Partakusuma bahkan mengatakan limbah medis  naik dua kali lipat. Dari hitungan Satgas dan WHO,  limbah pasien di rumah sakit yang bukan Covid-19 hanya 0,686 kilogram per hari.

"Jumlahnya menjadi 1,88 kg per hari pada pasien Covid-19. Naiknya hampir dua kali lipat," kata Lia dalam Katadata Virtual Series “Gunting dan Buang Masker Bekasmu” Jumat, 19/2.

Agar limbah masker itu tidak merusak lingkungan dan menjadi saran penularan virus corona, lanjut Lia, rumah sakit atau fasilitas kesehatan harus mengikuti prosedur pengelolaan yang benar. Limbah medis yang ada harus dimasukkan ke kantong plastik kuning, diberikan disinfektan, kemudian dikunci di dalam tempat sampah tertutup dan diberikan disinfektan kembali.

Selanjutnya, sampah dikirim ke tempat penampungan sementara. Kemudian, dibakar dengan suhu 800 derajat Celsius jika rumah sakit memiliki insinerasi. Jika tidak memiliki insinerasi, pihak rumah sakit bekerjasama dengan pihak ketiga.

Pihak ketiga disebut akan mengangkut limbah medis dan membakarnya. Apabila dilakukan dengan benar, limbah medis dari pasien Covid-19 tidak menularkan virus corona.

Tidak hanya rumah sakit, masyarakat juga perlu berperan dengan aktif dalam mengelola sampah medis terutama masker. Masyarakat diharapkan memiliki tempat pembuangan khusus untuk masker atau dropbox sehingga petugas yang mengangkut mudah untuk memisahkan dengan sampah lainnya.

Selain itu, peran serta dari RT dan RW penting untuk memberikan informasi mengenai persebaran warganya yang terkonfirmasi Covid-19. Hal itu untuk memudahkan petugas kebersihan mengambil sampah dan mengetahui wilayah yang memiliki limbah infeksius.

Sistem pengangkutan sampah seperti itu, menurut Lia, telah dilakukan di Jakarta. Oleh karena itu, dia mengatakan bahwa Jakarta bisa menjadi percontohan dalam pengelolaan limbah masker.

“Meskipun saya tidak tahu merata ke seluruh pelosok DKI atau tidak, tetapi beberapa kali pertemuan dengan Dinas Kesehatan DKI mereka memiliki sistem pengangkutan. Mereka menyampaikan ada kendaraan-kendaraan yang mengangkut dari tempat masyarakat,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Lia menyebutkan pengelolaan limbah masker di tiap daerah memang belum seragam. Meski demikian, Satgas Covid-19 akan mencoba untuk membuat sebuah model percontohan yang rencananya dilaksanakan di Jawa Barat.

“Jika telah membuat model yang diterapkan di Jawa Barat, maka akan disebarkan ke seluruh Indonesia. Jadi sekali lagi harus ada kerjasama antara masyarakat dan Dinkes,” ujarnya.

Reporter: Dwi Hadya Jayani

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait