Sinovac Uji Klinis Vaksin Covid-19 pada Anak-anak

Sinovac menyatakan hasil uji klinis vaksin virus corona pada anak-anak akan rampung bulan depan.
Image title
23 Februari 2021, 16:31
vaksin virus corona, sinovac, covid-19, virus corona, pandemi corona, pandemi, jakarta, gerakan 3M
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
Petugas kesehatan menunjukkan vaksin COVID-19 Sinovac di Rumah Sakit (RS) Umum Pusri Palembang, Sumatera Selatan, Senin (25/1/2021). Sinovac tengah uji klinis vaksin Covid-19 pada anak-anak berusia tiga hingga tujuh tahun.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Sinovac BioTech terus mengembangkan vaksin virus corona agar bisa digunakan untuk banyak kelompok masyarakat. Salah satunya vaksin untuk anak-anak. 

Direktur Senior Sinovac Weining Meng mengatakan pihaknya telah melaksanakan uji klinis pemberian vaksin pada anak-anak berusia tiga hingga tujuh tahun. Uji klinis itu ditargekan rampung pada bulan depan. 

Meski begitu, Meng mengatakan bahwa data yang dikumpulkan dari hasil uji semenara menunjukkan hasil yang bagus. "Hasilnya sangat baik pada kelompok tersebut, namun kami perlu satu bulan lagi untuk merilis datanya untuk masyarakat," kata Meng dalam acara "The International Conference on Covid-19 Pandemic" yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Universitas Padjadjaran pada Selasa (23/2).

Sebelumnya, vaksin Sinovac dinyatakan efektif mencegah Covid-19 pada kelompok masyarakat di atas usia 60 tahun atau lanjut usia (lansia). Bahkan vaksin bernama Coronavac itu telah mendapatkan izin penggunaan darurat untuk kelompok tersebut dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Kepala BPOM Penny Lukito menjelaskan bahwa pemberian izin didasarkan pada data uji klinis fase II di Tiongkok dan fase II di Brasil pada penduduk lansia dengan jumlah peserta tes yang memadai. Uji klinis di Tiongkok melibatkan 400 orang lansia, sedangkan di Brasil melibatkan 600 orang lansia.

Hasilnya, pada uji klinis di Tiongkok pemberian dua dosis vaksin, dengan jarak pemberian tiap dosis 28 hari, menunjukkan hasil imunogenisitas yang baik. Selain itu hasil uji klinis di Tiongkok juga tidak menunjukkan efek samping yang serius.

“Peningkatan kadar antibodi yang baik dengan seroconversion rate 97,96%. Setelah 28 hari pemberian dosis kedua, titer antibodi masih tinggi di 97,96%,” kata Penny dalam konferensi pers virtual BPOM, Minggu (6/2).

Sedangkan pada uji klinis fase III di Brasil menunjukkan bahwa vaksin aman tanpa menimbulkan efek samping serius atau kematian. Adapun efek samping yang timbul berupa nyeri di tempat suntikan, ruam, demam ringan, bengkak, kemerahan pada kulit dan sakit kepala.

"Artinya efek samping masih dalam batas ringan sebesar 1,1%,” kata dia.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait