Gojek Catat Transaksi Makanan Cepat Saji Naik 8 Kali Saat Pandemi

Pandemi corona telah mengubah prilaku masyarakat yang cenderung memilih transaksi secara online. Gojek pun mencatat pesanan makanan naik 8 kali lipat.
Image title
Oleh Muchammad Egi Fadliansyah
18 Juni 2020, 09:58
Gojek, makanan, pandemi corona, virus corona, covid-19
gojek
Ilustrasi, Go-Food. Gojek mencatat transaksi makanan cepat saji naik hingga delapan kali lipat karena pandemi corona.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Perusahaan layanan on-demand Gojek melihat perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja saat pandemi corona. Perusahaan mencatat transaksi produk makanan cepat masak paling banyak dipesan melalui Go-Food dan Go-Mart.

Head of Groceries Gojek Tarun Agarwal mengatakan terjadi peningkatan transaksi harian hingga delapan kali lipat untuk produk makanan siap masak saat lebaran tahun ini. "Covid-19 telah mengubah cara orang berperilaku dengan mengadopsi praktik jaga jarak sosial, termasuk di Indonesia," kata Tarun dalam konferensi video pada Rabu (17/6).

Menurutnya, selama pandemi corona, konsumen banyak menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Konsumen juga cenderung menjaga kesehatan, termasuk pada makanan yang mereka konsumsi. Mereka juga mengurangi transaksi offline dan beralih ke online

Menanggapi adanya perubahan perilaku konsumen seperti itu, Gojek meluncurkan fitur Siap Masak di platform mereka sejak beberapa bulan lalu. Layanan itu menjajakan produk makanan beku siap antar yang bisa dimasak dengan cepat oleh konsumen di rumah.

Beberapa restoran telah tergabung dalam layanan tersebut, seperti Raa Cha Suki & BBQ, Imperial Kitchen, hingga HokBen. Mereka lantas menjajakan produknya secara online, guna menjangkau pelanggan yang berada di rumah karena pandemi corona.

(Baca: Gojek Akan Buka 100% Layanan Ojek Online di Masa Transisi PSBB)

(Baca: Saingi Gojek-Grab, Pesan Makanan Bisa Lewat Google, Instagram, Shopee)

Produk makanan beku tersebut bisa dimasak sendiri oleh konsumen, dengan cara yang lebih mudah. HokBen bahkan membuat aplikasi dan situs web khusus untuk menjangkau pelanggan. Untuk skala UMKM, pemilik usaha Si Jagur Bandung Eka Sopian juga berinovasi dengan menjual paket menu frozen food di GoFood.

Layanan GoFood pun beradaptasi selama pandemi. Gojek berkolaborasi dengan Pasar Mitra Tani menjual
bahan pangan pokok ke dalam platform. Selain itu, Gojek mengembangkan layanan yang membantu konsumen berbelanja kebutuhan sehari-hari atau groseri melalui layanan GoMart dan GoShop.

Transaksi belanja groseri di Gojek pun meningkat. Pada Mei 2020, transaksi groseri di layanan GoMart meningkat lima kali lipat dibanding Januari tahun ini. Gojek optimistis, peningkatan akan berlanjut meski sudah memasuki fase normal baru (new normal).

Tarun mengatakan perusahaannya menerapkan model bisnis direct-to-consumer dalam mengembangkan layanan saat pandemi. Termasuk juga diterapkan dalam mengembangkan fitur Siap Masak dan groseri. 

Model bisnis seperti itulah yang dipakai Gojek untuk meminimalkan penurunan transaksi di tengah pandemi. Gojek juga menerapkan teknik Minimum Viable Point (MVP) untuk menentukan set fitur paling minimal dalam ekosistem teknologi. Teknik itu diterapkan sebelum startup meluncurkan produk atau layanan yang lebih lengkap.

Teknik itu bertujuan mendapatkan umpan balik dari calon pengguna dalam waktu yang relatif singkat. Dengan begitu, startup bisa meminimalkan biaya pengembangan dan kemungkinan produk gagal dalam skala besar.

(Baca: Riset Facebook: Belanja Online Bahan Pokok Tetap Tren Saat Normal Baru)

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait