DPR Desak Pemerintah Capai Target Bauran Energi 23% Meski Ada Pandemi

Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto menilai pandemi corona seharusnya tidak menghalangi upaya pemerintah mencapai target EBT sebesar 23% pada 2025.
Image title
3 Juni 2020, 20:11
DPR, pemerintah, kementerian ESDM, energi baru terbarukan, ebt, pandemi corona, virus corona, covid-19
ANTARA FOTO/Kornelis Kaha
Ilustrasi, seorang operator Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kabupaten Kupang, Selasa (3/12). DPR mendesak pemerintah mewujudkan target energi baru terbarukan sebesar 23% pada 2025.

Anggota DPR mendesak pemerintah mewujudkan target bauran energi baru terbarukan atau EBT sebesar 23% pada 2025. Biarpun pandemi corona membuat konsumsi listrik turun dan kapasitas berlebih di Pulau Jawa. 

Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto menilai target tersebut bisa tetap tercapai jika pemerintah mengganti sejumlah pembangkit listrik yang tersebar di luar Pulau Jawa dengan pembangkit EBT. Apalagi ada sekitar 5 ribu megawatt (MW) pembangkit listrik yang masih menggunakan energi fosil.

"Saya hitung di luar Pulau Jawa ada sekitar 5 ribu MW yang dapat digantikan dengan tenaga surya. Pengembangannya cepat, tidak memerlukan energi tambahan," ujar Sugeng dalam Webinar Ecadin, Rabu (3/6).

Lebih lanjut, dia meminta pemerintah optimistis mencapai target bauran EBT. Terlebih lagi, harga minyak mentah dunia sedang berada di level rendah.

Advertisement

"Bagi saya tetap realistis program ini dengan catatan presiden punya kemampuan itu,  karena ini programnya di RPJMN," kata Sugeng.

(Baca: Demi Tarik Investasi, Kementerian ESDM Kebut Aturan Tarif Panas Bumi)

(Baca: Energi Panas Bumi Solusi Mengatasi Impor BBM)

Di sisi lain, Praktisi Energi Sampe L. Purba pesimistis target bauran energi bisa tercapai. Sebab, asumsi target tersebut dibuat saat pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi. 

Dengan kondisi pertumbuhan yang tinggi saja, pemerintah perlu beberapa tahun untuk merealisasikan target EBT 23%. Sedangkan saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup rendah.

"Kita bahkan di bawah 10%, kemudian demand listrik (turun)," ujar Sampe.

Selain itu, Indonesia masih mengandalkan energi fosil. Sebab, pengembangan EBT membutuhkan teknologi yang mumpuni dan biayanya mahal.

"Ada 83% mengunakan energi fosil," kata dia.

(Baca: EBT Sebagai Solusi Energi Ramah Lingkungan)

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait